Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Hari Jumat 17 September 2021

Renungan Hari Jumat 17 September 2021

Renungan Hari Jumat 17 September 2021

Ciri ajaran sesat dari sisi uang.

Kembali Paulus mengingatkan Timotius untuk berhati-hati terhadap orang yang membawa ajaran yang “lain” (ayat 3). Di sini Paulus menggarisbawahi karakter lainnya dari para pengajar sesat ini. Selain ajaran mereka yang bertentangan dengan perkataan Tuhan Yesus (ayat 3), mereka juga sok tahu, senang dengan “mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, … (ayat 4) serta percekcokan (ayat 5). 

Mereka “tidak lagi berpikiran sehat dan … kehilangan kebenaran” (ayat 5). Terakhir, mereka mempunyai motivasi yang sangat materialistis (ayat 5b-10). Mereka menganggap ibadah sebagai sumber keuntungan (ayat 5b).

Sebagai kontras, Paulus memberikan gambaran tentang arti ibadah yang benar. Ibadah, yang artinya lebih menunjuk pada cara hidup Kristen yang berdasarkan perkataan Tuhan Yesus dan ajaran yang benar (ayat 3), memberi keuntungan yang besar bila disertai dengan rasa cukup, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (ayat 8). 

Keuntungan ini sempat disinggung Paulus pada 4:7-8. Tidak seperti mereka yang terpengaruh oleh ajaran sesat itu sehingga menjadi sangat bersemangat dalam mencari kekayaan sehingga terjatuh ke dalam pencobaan dan “berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (ayat 9). 

Tidak hanya kebinasaan dalam kekekalan yang menjadi akibatnya, tetapi pada kehidupan kini dan di sini. Orang-orang yang cinta uang telah “menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (ayat 10b). 

Hal yang paling menyedihkan adalah bila para pengajar seperti ini telah membuat anggota jemaat menyeleweng dan menyimpang dari iman dan ibadah yang sejati (bdk. 10c). Semuanya karena “cinta uang adalah akar dari segala kejahatan” (ayat 10a).

Mempertahankan iman yang benar terhadap serangan ajaran sesat dilukiskan Paulus seperti peperangan (1:18) dan pertandingan atletik (6:12; bdk. 2Tim. 4:7). Iman ini disebut di dalam surat ini sebagai “kebenaran” (1Tim. 2:4; 3:15; 4:3), “ajaran kita” (6:1), atau “harta yang dipercayakan” kepada hamba-Nya (6:20; 2Tim. 1:12,14). 

Sebagian anggota jemaat telah menyimpang dari iman, maka perjuangan untuk mempertahankan iman itu semakin mendesak.

Baik pertandingan maupun peperangan menuntut usaha yang tak setengah-setengah. Timotius disapa “manusia Allah,” serupa dengan sebutan “abdi Allah” bagi beberapa pemimpin Israel (Musa, Samuel, Daud, dll.). Sebagai abdi Allah dan pemimpin jemaat, Timotius harus menjauhi “cinta uang” dan berbagai kejahatan yang mengikutinya. 

Sebaliknya, ia harus mengejar sifat-sifat yang diperlukan untuk memenangkan pertandingan itu (1Tim. 6:11): “Keadilan dan ibadah” menyangkut sikap adil dalam relasi dengan orang lain, dan menyembah Allah, bukan mamon; “kesetiaan dan kasih” menyangkut integritas serta kasih untuk melayani dan berkurban, bukan pemuasan diri; “kesabaran dan kelembutan” menyangkut kesabaran dalam menghadapi situasi yang sulit dan dalam menghadapi orang-orang yang mendatangkan kesulitan. 

Pegangan Timotius dalam perjuangan ini ialah “hidup kekal” (12) yang telah diterimanya ketika ia bertobat (“dipanggil”) dan dibaptis (“berikrar di depan banyak saksi”).

Renungkan: Banyak agama dan kepercayaan di dunia ini mengajarkan bahwa manusia beribadah agar Tuhan melimpahinya dengan berbagai berkat materi. Bahkan, kekayaan adalah balasan yang wajib diberikan oleh Tuhan kepada mereka yang beribadah. Pemahaman seperti ini tidaklah alkitabiah. Agama Kristen memandang kekayaan sebagai berkat Allah yang mencukupkan kita (lih. 6:17b), tidak lebih, dan bukan tujuan utama hidup.

Mazmur: Akhir hidup orang fasik

Pengkhotbah mengatakan: “Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat” (Pkh 8:11). Apa yang dikatakan pengkhotbah masih relevan pada zaman ini. 

Banyak orang fasik yang belum mendapat penghakiman, tetapi hidup dalam kemakmuran dan kemuliaan. Namun nas hari ini mengingatkan kita bahwa walaupun mereka terlihat hidup dengan berbahagia, tetapi sesungguhnya akhir hidup yang mengerikan sedang menanti orang fasik.

Nas hari ini adalah mazmur hikmat, yang hendak mengajarkan hikmat untuk direnungkan oleh setiap orang, baik hina maupun mulia, baik kaya maupun miskin (ayat 2-5). Pemazmur mau mengajarkan bahwa mereka yang memercayakan diri pada harta bendanya tetap tidak dapat membebaskan diri dari kematian karena mereka tidak dapat memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawa mereka (ayat 6-10). 

Ironisnya mereka harus meninggalkan seluruh harta kekayaan mereka pada waktu mereka meninggal (ayat 11-13). Orang semacam ini akan tetap diam dalam dunia orang mati (ayat 14-15), sedangkan pemazmur sebagai umat Allah akan ditarik dari cengkeraman dunia orang mati (ayat 16). Karena itu pemazmur menasihatkan agar tidak perlu takut bila seorang menjadi kaya (ayat 17).

Mengapa pemazmur meminta kita jangan takut dan bukan jangan cemburu? Karena orang kaya yang digambarkan di sini adalah orang kaya yang menganiaya dan mengejar orang-orang benar (ayat 6). 

Orang kaya yang semena-mena ini, pada akhirnya juga pasti akan mati dan tidak akan melihat terang untuk seterusnya (18-20). Bahkan bagaimanapun gemilangnya ia semasa hidup, jika tidak memiliki hikmat, ia akan disamakan dengan hewan yang dibinasakan (ayat 21).

Maka marilah kita sadari bahwa bagaimanapun kehebatan orang fasik yang kaya dan berkuasa, pada akhirnya mereka harus menerima hukuman. Karena itu kita tidak perlu takut pada mereka. Marilah kita bertekad untuk takut hanya kepada Allah, dan bukan takut kepada manusia.

Injil hari ini, Kasih yang dialami dan dinyatakan.

Dalam tradisi Perjanjian Lama, — bagi orang-orang Yahudi — status dan kedudukan wanita berada di bawah kedudukan pria. Wanita adalah golongan masyarakat kelas dua, sebab tempat dan peran utama dipegang oleh pria.

Tapi dalam perkembangan selanjutnya tradisi ini tidak lagi mutlak. Alkitab memaparkan tentang peran penting kaum wanita dalam keluarga, masyarakat, dan sejarah keselamatan. Meskipun demikian masih ada yang tetap berpegang pada tradisi ini hingga zaman Perjanjian Baru. 

Kaum Wanita tidak memiliki peluang untuk berkarya. Dalam perikop hari ini kita bertemu dengan beberapa wanita yang dilibatkan Yesus dalam pekerjaan-Nya. Yesus tidak pernah membedakan pria dan wanita, keduanya menjadi fokus pelayanan dalam misi keselamatan-Nya.

Dilibatkannya para wanita dalam misi pelayanan Yesus di beberapa desa dan kota kita belajar dua hal. 

Pertama, Yesus menepis anggapan yang mengatakan bahwa tidak ada kesempatan bagi kaum wanita untuk berkarya. 

Kedua, Yesus ingin menunjukkan bahwa wanita-wanita itu yang telah mengalami sentuhan kasih Yesus dan diselamatkan, akan mewujudkan kasih yang nyata dalam kehidupannnya yang baru. 

Sentuhan kasih dan keselamatan inilah yang telah mengubah mereka. Ungkapan syukur atas kasih dan keselamatan dari Allah itu mereka aplikasikan dalam wujud saling melayani. Setiap orang yang telah mengalami sentuhan kasih Allah dan diselamatkan pasti mengalami perubahan. 

Perubahan itu akan mendorong setiap orang yang telah merasakan dan mengalami kasih tak terselami dalam Kristus, untuk menyatakan kepada siapa pun yang ditemuinya betapa dalamnya kasih Kristus. Kerinduannya yang amat dalam membuat orang lain pun mengalami kasih Kristus.

Renungkan: Keselamatan yang Yesus anugerahkan kepada para wanita itu telah menghasilkan suatu perubahan dan menumbuhkan keyakinan iman yang luar biasa. Keyakinan akan keselamatan itu jugalah yang membawa diri mereka terlibat dalam pelayan Yesus. Kasih dan anugerah keselamatan dari Yesus, seharusnyalah membuat Kristen menyatakan perubahan dari hari ke hari dan makin mengleuarkan buah roh dalam setiap perkataan, pikiran, dan perbuatannya, serta mewujudkan anugerah keselamatan itu dengan terlibat serta dalam mendukung pelayanan Gereja dan masyarakat.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat melihat kemiskinanku dan kebutuhanku akan pengampunan dari-Mu seperti yang dilakukan para perempuan yang mengikuti Engkau dengan setia. Aku mengaku bahwa diriku miskin dan kecil dalam dunia ini. Namun aku percaya, bahwa melalui imanku kepada-Mu, Engkau akan membuat diriku besar dalam Kerajaan surga. Amin. (Lucas Margono)

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com

Posting Komentar untuk "Renungan Hari Jumat 17 September 2021"