Renungan Katolik Hari Selasa, 10 Februari 2026 Bacaan Injil: Markus 7:1–13
🌄 Renungan Katolik Hari Selasa, 10 Februari 2026 Bacaan Injil: Markus 7:1–13
“Hati yang Taat, Bukan Sekadar Tradisi” Injil: Markus 7:1–13
🌄 Ketika Iman Tinggal di Permukaan
Banyak orang mengira bahwa iman yang baik adalah iman yang tampak rapi dari luar: tata cara dijalankan, aturan ditaati, kebiasaan dijaga. Semua itu memang penting. Namun Injil hari ini membawa kita lebih dalam—melewati lapisan luar menuju inti hati.
Dalam Markus 7:1–13, Yesus berhadapan dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang sangat taat pada tradisi, tetapi kehilangan makna terdalam dari iman itu sendiri. Mereka sibuk menjaga kebiasaan lahiriah, namun lupa memelihara hati yang taat kepada Allah.
Melalui renungan Katolik hari ini, kita diajak bercermin:
👉 Apakah imanku hidup di hati, atau hanya berhenti di kebiasaan?
📜 Tradisi yang Baik, Tetapi Bisa Kehilangan Jiwa
Yesus tidak menolak tradisi. Ia sendiri hidup dalam tradisi Yahudi. Namun Ia menegaskan satu hal penting: tradisi harus mengantar pada kehendak Allah, bukan menggantikannya.
Orang-orang Farisi menegur murid-murid Yesus karena tidak mencuci tangan menurut adat sebelum makan. Bagi mereka, ketaatan lahiriah menjadi ukuran kesalehan.
Namun Yesus menjawab dengan tegas:
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Mrk 7:6)
Ini adalah kritik yang tajam, tetapi penuh kasih. Yesus tidak sedang menghina, melainkan membangunkan hati yang tertidur dalam rutinitas religius.
Dalam renungan Injil Markus 7:1–13, kita belajar bahwa iman bisa tetap aktif secara lahiriah, tetapi mati secara batiniah.
❤️ Hati: Pusat Iman yang Sejati
Yesus selalu membawa orang kembali ke satu tempat: hati.
Hati bukan sekadar perasaan, tetapi pusat keputusan, niat, dan arah hidup. Di sanalah iman sejati bertumbuh.
Ketaatan lahiriah tanpa hati yang taat hanya melahirkan kesalehan palsu. Sebaliknya, hati yang sungguh mengasihi Allah akan secara alami mengekspresikan diri dalam tindakan nyata.
Dalam kehidupan Katolik hari ini, kita bisa saja:
- rajin mengikuti Misa,
- aktif dalam pelayanan,
- fasih dalam bahasa rohani,
namun masih menyimpan hati yang keras, menghakimi, dan enggan berubah.
Renungan Katolik harian ini mengingatkan: Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi mengapa kita melakukannya.
⚖️ Ketika Tradisi Menutupi Kebenaran
Yesus menyoroti contoh konkret: tradisi “korban” (korban) yang dipakai untuk menghindari kewajiban terhadap orang tua. Dengan dalih religius, orang membenarkan ketidakpedulian.
Inilah bahaya besar iman formal:
agama dipakai untuk membenarkan ego.
Tradisi yang seharusnya menolong orang semakin mengasihi sesama, justru dipakai untuk menghindari tanggung jawab moral.
Yesus menyebut ini dengan sangat jelas:
“Kamu pandai mengesampingkan perintah Allah untuk memelihara adat istiadatmu sendiri.”
Ini bukan hanya masalah zaman Yesus. Ini juga masalah zaman kita.
Dalam renungan Katolik Selasa ini, kita diajak bertanya dengan jujur:
- Apakah aku memakai agama untuk membenarkan sikapku?
- Apakah imanku sungguh membuatku lebih mengasihi, atau justru lebih mudah menghakimi?
📱 Relevansi di Zaman Sekarang
Di era media sosial, iman sering tampil sebagai identitas visual: simbol, kutipan, unggahan rohani. Semua itu baik. Namun Injil hari ini bertanya lebih dalam: apakah hati kita ikut berubah?
Iman sejati terlihat ketika:
- kita bersedia mengampuni,
- kita mau mendengarkan,
- kita rendah hati mengakui salah,
- kita peduli pada yang lemah dan tersisih.
Dalam The Katolik renungan harian, Injil ini menjadi pengingat penting bagi remaja, Gen Z, dan orang tua milenial: iman bukan sekadar apa yang kita tampilkan, tetapi bagaimana kita hidup setiap hari.
🌱 Dari Rutinitas Menuju Pertobatan
Yesus tidak datang untuk menghancurkan tradisi, tetapi untuk memurnikannya. Ia ingin iman kembali bernapas, bukan sekadar berjalan di jalur lama.
Rutinitas religius tanpa refleksi akan membuat iman tumpul. Sebaliknya, rutinitas yang disertai pertobatan akan membuat iman semakin matang.
👉 Tradisi + hati yang taat = iman yang hidup
👉 Tradisi – hati yang taat = agama yang kosong
🔍 Refleksi Pribadi
Luangkan waktu sejenak hari ini:
Tradisi iman apa yang selama ini aku jalani tanpa lagi aku hayati?
Di bagian mana hatiku mulai menjauh dari Tuhan meski aku tampak “religius”?
Perubahan kecil apa yang Tuhan undang untuk kulakukan hari ini?
🙏 Doa Penutup
Tuhan yang Maharahim, Engkau mengenal hati kami lebih dari siapa pun.
Engkau tahu betapa mudahnya kami bersembunyi di balik kebiasaan dan tradisi.
Sucikanlah hati kami, agar iman kami tidak berhenti di bibir, tetapi hidup dalam kasih dan ketaatan sejati.
Ajarlah kami menjalani tradisi iman dengan hati yang terbuka dan siap diubah oleh-Mu. Amin.
🌅 Penutup: Iman yang Bernapas
Yesus tidak mencari kesalehan yang sempurna, tetapi hati yang mau dibentuk.
Semoga renungan Katolik Markus 7:1–13 ini menolong kita untuk kembali ke inti iman: mengasihi Allah dengan segenap hati dan mewujudkannya dalam kasih kepada sesama.
Demikianlah Renungan Katolik Hari Selasa, 10 Februari 2026 Bacaan Injil: Markus 7:1–13, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

