Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Hari Rabu 15 September 2021

Renungan Hari Rabu 15 September 2021

Renungan Hari Rabu 15 September 2021

Yang sangat penting.

Apa hal penting yang menduduki peringkat pertama dalam hidup kita pribadi, menentukan jatuh bangunnya gereja, bahkan menentukan nasib kekal manusia? Yang sangat penting itu ialah Injil Yesus Kristus. 

Banyak hal mendesak yang orang anggap penting untuk segera dibereskan dalam dunia masa kini. Ambillah contoh berikut ini: soal lingkungan hidup, soal perdamaian dunia, kerukunan, pengadaan perumahan rakyat, peningkatan pendidikan, pengadaan lapangan kerja, dan lain sebagainya. 

Semuanya itu memang mendesak bahkan penting, namun bukan sangat penting. Hanya Injil Yesus Kristus yang sangat penting sebab Injil menentukan hidup kekal manusia yang akan mempengaruhi total radikal kehidupan setiap manusia baik kelak maupun kini di dunia ini. Gereja yang berdiri teguh ialah gereja yang tidak melupakan fondasinya yaitu Injil Yesus Kristus. 

Gereja ada karena Injil Yesus diberitakan dan disambut dalam iman. Bila hal yang sangat penting itu dilupakan, gereja dan kehidupan Kristen kita terancam bahaya. Oleh Injil itulah kita diselamatkan. 

Kematian dan kebangkitan-Nya telah melepaskan kita dari kuasa dosa dan dari murka Allah. Hal-hal mendesak yang tiap hari harus kita hadapi seharusnya kita perhadapkan di bawah terang Injil dan bukan membuat keyakinan kita akan Injil menjadi goyah!

Kasih karunia Allah. Banyak orang meragukan kebenaran Injil. Rupanya hal itu sudah terjadi bahkan sejak zaman Paulus. Benarkah Yesus saja satu-satunya jalan? Benarkah Dia bangkit dari kematian? 

Banyak lagi pertanyaan orang ajukan terhadap kebenaran Injil, namun yang terutama ialah kebenaran tentang kebangkitan-Nya. Paulus sebenarnya tidak pernah berjumpa Yesus sewaktu Yesus hidup. 

Untuk apa ia mati-matian menjadi penganjur dari Orang yang tidak pernah dikenalnya bahkan pernah dimusuhinya, bila ia tidak benar-benar pernah mengalami sesuatu dari Yesus ini?

Renungkan:Bersaksi adalah akibat dari fakta bahwa Yesus sungguh hidup dalam diri seseorang.

Mazmur, Percaya dan bersyukur dalam segala situasi.

Orang percaya seperti halnya semua orang lain, mengalami situasi hidup berubah-ubah. Bedanya adalah, orang percaya tidak membiarkan kehidupan rohaninya terhempas turun-naik mengikuti turun-naik situasi hidup yang tak menentu. 

Juga orang percaya tidak menjadi tidak realistis atau aneh di dalam menghadapi situasi nyata hidup ini. Ia tetap dapat tersenyum penuh suka ketika hidup nyaman, ia pun meratap ketika hidup menghadirkan kesusahan. Namun semua itu dialaminya dalam iman yang semakin tumbuh, hubungan dengan Tuhan yang semakin akrab.

Kebenaran ini tampak dalam struktur mazmur ini. Inti mazmur ini adakah ratapan (ayat 10-14) yang berakhir dengan pujian syukur (ayat 20-25). Mengapa bisa demikian? Karena situasi yang membangkitkan ratapan tersebut diterima pemazmur dengan doa dan iman. 

Menarik kita catat bahwa ratapan pemazmur dibungkus dengan kedua unsur tersebut. Doa dan ungkapan iman mendahului (ayat 2- 6,7-9) dan mengikuti (ayat 15, 16-19) ratapannya. Seiring dengan itu, sikapnya terhadap pihak yang mungkin menjadi sebab penderitaannya, dan pengenalannya akan Tuhan pun bertumbuh. 

Ia semakin membenci dosa (ayat 6) semakin menginginkan kebenaran- keadilan Allah berlaku (ayat 17-19). Ia semakin akrab berpegang mengimani Allah perjanjian. Tidak heran bahwa meski tetap harus meratap dalam situasi sulit yang ditanggungnya, akhirnya ia dapat menaikkan meninggikan Allah dengan puji-syukur dan kesaksian yang tulus.

Mazmur ini dengan mengharukan diucapkan Yesus ketika Ia tergantung di salib. Ialah yang memungkinkan kita menerima dan menjalani situasi hidup berat dengan sikap seorang pemenang. Kebenaran ini perlu kita hayati secara segar di Indonesia kini.

Renungkan: Bersama Dia yang telah merubah maut menjadi jalan hidup, kita pun dapat menerima situasi sesulit apapun dalam doa, iman dan nyanyian kemenangan.

Injil hari ini, Menanggapi pengorbanan Yesus

Tibalah saatnya Anak Manusia akan disalibkan. Ia harus minum dari cawan penderitaan yang telah Dia terima. Dia menanggung hukuman yang seharusnya dijatuhkan atas manusia.

Kematian Kristus di kayu salib memperlihatkan karya penebusan dan pendamaian yang Dia lakukan. Dengan penebusan, rantai perbudakan dosa yang membelenggu manusia diputuskan. 

Dengan pendamaian, hubungan yang rusak antara pendosa dengan Allah dipulihkan. Pendamaian harus dilakukan karena murka Allah yang telah bangkit akibat dosa manusia. Murka Ilahi ini hanya dapat dipuaskan dengan keadilan, yakni pelaku dosa harus dihukum. 

Kematian Kristuslah yang kemudian memuaskan keadilan dan kekudusan Allah. Maka ketika dosa dibereskan, pembatas antara manusia dengan Allah telah dirobohkan. Kuasa dosa telah dikalahkan, dan kita diselamatkan dari murka Allah (Rm 6:8-9).

Dengan demikian, di salib kita tidak hanya melihat kebesaran kasih Allah, tetapi juga panasnya murka dan penghakiman-Nya. Bagi kita yang berpikir bahwa Allah tidak terlalu serius memandang dosa, marilah kita menghitung-hitung harga yang harus dibayar oleh Kristus untuk melunasi hutang dosa itu. Itulah yang akan mendorong kita menentukan pilihan saat datang pada salib Kristus. Tidak bisa tidak!

Salib memang memberikan gambaran sempurna tentang Manusia yang rela mengorbankan diri-Nya bagi manusia lainnya (Yoh 15:13). Juga menggambarkan kebesaran kasih seorang suami pada istriya (Ef. 5:25-27). 

Namun berhadapan dengan salib, seharusnya bukan hanya membuat Anda mengambil gambaran teladan saja. Anda harus memilih: percaya pada Kristus yang menyelamatkan Anda atau menolak Dia dan kemudian menanggung murka-Nya. Salib tidak membiarkan manusia berada dalam posisi netral atau abu-abu. 

Kita percaya pada Yesus atau sebaliknya, mengambil posisi sebagai musuh-Nya. Kiranya Allah memampukan Anda untuk menyikapi dengan benar.

Maria adalah Bunda yang paling langsung mengalami tusukan pedang yang menembus jiwanya seperti dinubuatkan oleh Simeon. Kita tak mampu menyebutkan dukacita Maria satu demi satu karena Yesus. 

Hal yang penting kita tahu ialah bagaimana Maria menghadapi semuanya itu. Ia tidak meratapi peristiwa sedih yang menimpa dirinya. Ia menyimpan semuanya itu dalam hati dan merenungkannya. Ia benar-benar percaya akan Puteranya. Ia yakin semuanya adalah kehendak Allah, bukan sebuah musibah.

DOA: Bapa, buatlah kami sebagai hamba-hamba-Mu seperti Bunda Maria, agar supaya kehendak-Mu terjadi di atas bumi seperti di dalam surga. Seperti murid yang dikasihi Yesus, kami pun mengambil Maria sebagai ibunda kami dan ‘model’ kami selagi kami merangkul rencana penyelamatan-Mu. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Sumber gambar google.com


Posting Komentar untuk "Renungan Hari Rabu 15 September 2021"