Renungan Hari Senin 25 Oktober 2021

Renungan Hari Senin 25 Oktober 2021

Renungan Hari Senin 25 Oktober 2021

Status dan kondisi

Seperti halnya hanya ada dua status, demikian pula hanya ada dua kemungkinan keadaan hidup seseorang. Entah orang berstatus milik Kristus dan itu pasti tercermin dalam keadaan nyata kehidupannya, atau orang yang keadaan hidupnya tetap tidak beres yang menyatakan bahwa statusnya belum diperbarui oleh Kristus. 

Roh yang kudus dan daging yang bersifat dosa tidak mungkin berdamai. Jadi, kondisi hidup kita adalah tanda bagaimana status rohani kita sesungguhnya.

Orang yang memiliki Roh Kristus dalam hatinya bukan saja berstatus dibenarkan, tapi juga berstatus baru diangkat menjadi anak Allah (13- 15). Dengan status anak Allah ini, orang percaya dimungkinkan menyeru Allah sebagai Bapa. 

Roh Allah sendiri menyaksikan dalam hati orang percaya kesungguhan fakta pengangkatannya menjadi anak Allah (16). Paulus di sini menggunakan kata “menyeru” bukan sekadar memanggil. Ia menunjuk kepada pengalaman atau saat orang berteriak dengan penuh keyakinan dari kebutuhan jiwa terdalam kepada Allah. 

Ini bisa merupakan pengalaman dramatis ketika kita pertama kali beriman dan bertobat, yang disusul oleh penghayatan seterusnya hubungan yang dalam dan hangat orang percaya dengan Bapanya di surga.

Status menjadi anak angkat Allah ini pun akan tercermin di dalam keadaan nyata. Bukan saja orang percaya akan diberikan keberanian iman untuk meyakini Allah sebagai Bapa dan Kristus sebagai Anak. 

Orang percaya juga akan mengalami keadaan rohani yang akrab dengan Allah. Keakraban ini akan terpantul nyata dalam kehidupan doanya, dalam sikapnya merenungkan firman Tuhan, dalam ibadahnya mengasihi Allah, dalam ketekunannya mencari kehendak-Nya, menjauhi dosa, serta menikmati pengharapan surgawi, dsb.

Mazmur, Allah dalam hidup umat

Bagi bangsa Israel, Allah bukan hanya dikenal sebagai Allah Pencipta saja. Kisah campur tangan Allah saat mereka keluar dari Mesir, membekas kuat dalam ingatan mereka. Israel, yang begitu lama berada dalam kungkungan Mesir, kemudian bebas merdeka. Bila bukan karena Allah, mana mungkin identitas mereka sebagai bangsa bisa pulih?

Mazmur yang menjadi bacaan hari ini merupakan hasil ingatan akan keperkasaan Allah saat Ia berhasil mengalahkan tentara Mesir, yang mengejar bangsa Israel. Bagai prajurit tangguh, Allah berhasil membuat musuh-musuh Israel bertekuk lutut (2-3). 

Musuh-musuh lari tunggang langgang karena ketakutan (ayat 2). Mereka kemudian lenyap bagai asap tertiup angin dan hancur bagai lilin meleleh terbakar api (ayat 3). Begitulah nasib orang-orang yang memusuhi Allah dan umat-Nya. Di sisi lain, orang-orang yang berdiri di pihak Allah, yaitu orang-orang benar akan bersukacita karena hal itu (ayat 4). 

Allah, yang berkuasa atas alam semesta itu, memang adalah Pelindung bagi orang-orang yang lemah dan tertindas (ayat 6). Pemazmur ingat, waktu Israel membutuhkan pertolongan, Allah memimpin mereka seperti gembala memimpin kawanan domba. 

Mereka harus melalui padang belantara sampai akhirnya mereka dapat tiba di negeri yang dituju (ayat 8-11). Namun Tuhan tidak berhenti sampai di situ saja. Ia masih tetap terlibat ketika Israel masih harus berperang dengan para penguasa yang menduduki tanah itu, supaya mereka bisa tinggal di sana (ayat 12-15). 

Kehadiran Tuhan di tempat itu digambarkan bagai arak-arakan karena menang perang. Puluhan ribu kereta kuda disertai dengan tawanan-tawanan yang tertunduk malu karena kalah perang (ayat 16-19). Kisah perjalanan hidup Israel sebagai suatu bangsa memperlihatkan karya dan keperkasaan Allah, juga menunjukkan kepedulian dan campur tangan Allah. 

Begitu jugakah kisah hidup kita? Bila Anda ragu untuk mengatakan ya, cobalah tanyakan hati Anda, sudahkah Anda mempersilakan Allah berkarya sepenuh dan seutuhnya dalam hidup Anda?

Injil hari ini, Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat. (Lukas 13:14)

“TIDAK MENGENAL LIBUR”

Hari Sabat adalah hari yang sakral bagi orang Yahudi. Namun, mereka mengartikan kesakralan Sabat itu secara berlebihan sehingga tidak seorang pun diperbolehkan melakukan suatu kegiatan pada hari itu sekalipun untuk menyembuhkan orang sakit. 

Bisa dibayangkan kalau hal ini dianut oleh dokter atau perawat sehingga mereka tidak mau menolong pasien yang sakit parah karena saat itu hari Sabat.

Yesus memberikan wawasan berbeda tentang hari Sabat. Pada hari itu, Dia menyembuhkan perempuan yang bungkuk punggungnya karena dirasuki roh jahat selama delapan belas tahun. Kepala rumah ibadat kemudian melontarkan protes. 

Yesus menjawab kepala rumah ibadat itu dengan menekankan masalah “melepaskan” dan “dilepaskan”. Artinya, hari Sabat ada untuk melepaskan dan memerdekakan, bukan untuk mengikat dan membelenggu. 

Ya, Sabat justru hari yang tepat untuk melepaskan perempuan itu dari ikatan Iblis dan, dengan demikian, menyatakan kehadiran Kerajaan Allah yang penuh kuasa. Jika ternak saja bisa tetap diperhatikan pada hari Sabat, apalagi sesama manusia, bukan?

Perbuatan baik tidak mengenal libur. Peraturan semestinya dibuat untuk mempermudah pelayanan, bukan untuk menghambat atau membatasinya. Mari kita mengikuti jejak keteladanan Tuhan Yesus. 

Dia mementingkan menolong orang lain daripada mematuhi peraturan yang membelenggu. Tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menghentikan karya Kerajaan Allah. Biarlah melalui perbuatan baik kita Tuhan dipermuliakan dan Kerajaan-Nya dinyatakan.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url