Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Hari Minggu 24 Oktober 2021

Renungan Hari Minggu 24 Oktober 2021

Renungan Hari Minggu 24 Oktober 2021

Karena kasih kekal

Hukuman keras Tuhan kepada Israel bukanlah akhir dari segala-galanya. Pasal 30-33 menyatakan kerinduan Allah memulihkan Israel. Di pasal 30, walaupun dosa Israel sebenarnya tak terampunkan tapi kasih Allah bagaikan kasih Bapa, yang setelah memukul keras anak-Nya, akan mengampuni dan memulihkan Israel. 

Pemulihan kembali ke sediakala berarti Israel kembali menjadi umat Allah, dan Tuhan menjadi Allah mereka sebagaimana ditegaskan dalam perjanjian Sinai (31:1; lih. Kel. 19:5; Yer. 7:23; 11:4; 24:7; 30:22; 31:33; 32:38).

Allah mengasihi Israel dengan kasih kekal (3). Dulu kasih Allah dinyatakan melalui pembebasan nenek moyang Israel dari perbudakan Mesir dan pemeliharaan di padang gurun (2). Kelak mereka akan dibebaskan dari pembuangan untuk dibangunkan kembali di Tanah Perjanjian (4-6).

Janji pemulihan itu akan membawa sukacita yang besar karena bukan hanya Yehuda dipulihkan, bahkan Israel pun ikut dipulihkan (7-9). Maka Samaria akan kembali subur bertumbuhkan kebun anggur dan dari Efraim, orang akan mengajak berziarah ke Sion. 

Tindakan Allah memulihkan Israel akan menyebabkan perubahan luar biasa. Mereka akan bersorak, berseri-seri, menari bersama-sama. Perkabungan mereka berubah menjadi kegirangan. 

Allah sendiri akan menghibur, menyukakan, dan memuaskan jiwa mereka (11-14). Berbagai ungkapan tersebut cukup menjelaskan betapa dahsyat perombakan yang akan terjadi pada umat Tuhan waktu Tuhan memulihkan.

Kasih Allah dan kuasa penyelamatan dari-Nya atas manusia berdosa, kekal adanya. Apabila kita pernah gagal dan kembali jatuh dalam dosa, tataplah Allah dan berharaplah kepada Dia agar pemulihan-Nya kembali dinyatakan dalam diri Anda. 

Terimalah hajaran-Nya dan bertobatlah. Sambut juga uluran tangan-Nya yang bertujuan untuk melepaskan kita dari kejahatan dan memasukkan kita ke dalam persekutuan yang penuh suka dengan-Nya.

Mazmur, Perbuatan Allah masa lampau dan kini.

Setelah menghadapi pergumulan panjang, Tuhan memulihkan keadaan. Kemungkinan saat itu Tuhan membawa mereka keluar dari pembuangan di Babilonia. Mimpi menjadi kenyataan! Mereka keluar dari pengalaman pahit. 

Hati mereka diliputi sukacita dan sorak kegirangan. Ingatan yang kuat akan pertolongan Tuhan di masa lampau mendorong mereka untuk kembali melanjutkan iman percaya kepada Tuhan. Melalui pengharapan itu pula, umat menemukan jaminan akan kebebasan dan keselamatan mereka. 

Sekalipun Kristen menghadapi pergumulan karena penindasan dan pemasungan hak untuk beribadah, beriman, dan berkarya; tetap ada anugerah Allah yang menguatkan umat untuk berharap dan menikmati kemenangan.

Allah hidup dan dinamis. Allah tidak pernah pasif atau tinggal diam melihat umat-Nya menderita. Seringkali sebelum umat berseru memohon belas kasihan, penyertaan dan pertolongan telah dinyatakan-Nya secara ajaib (ayat 1). 

Kapan dan bagaimana Allah bertindak tidak semata-mata tergantung pada permohonan dan kebutuhan manusia, karena Ia tahu saat dan cara yang tepat menyatakan pertolongan-Nya. Tetaplah berdoa dan berhentilah untuk “mengatur” saat dan cara Allah bekerja, karena Ia tahu yang terbaik bagi kita.

Bacaan kedua, Apakah hari ini saudara merasa sangat sedih?

Yesus pernah merasakannya, bahkan “seperti mau mati rasanya” (Mat. 26:38).

Keagungan. Yesus disebut “Imam Besar Agung” karena Ia adalah adalah Imam yang telah terlebih dahulu menyelami dan mengalami pergumulan kita. Ia mengalami pencobaan, kesakitan, kesedihan, pengkhianatan, dan penderitaan yang amat sangat, khususnya di taman Getsemani dan Golgota. 

Puncak pergumulan-Nya di Getsemani menunjukkan betapa ngerinya kematian yang akan ditanggung-Nya di kayu salib bagi dosa manusia. Ia “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati” (Flp. 2:8). 

Inilah keagungan Iman Besar kita! Yesus melebihi imam Harun dan Lewi, sebab Ia tidak pernah menyimpang dari kehendak Allah (ayat 4:15, 5:8). Ia melebihi semua, karena melalui-Nya manusia diperdamaikan dengan Allah.

Hubungan kemanusiaan

Yesus dan keimaman-Nya. Kemanusia-an Yesus membuat Ia dapat mengerti keadaan, penderitaan, dan kelemahan kita; Ia terlebih dahulu menerima penghinaan dan mengalami penderitaan yang jauh melampaui apa yang kita alami; sehingga ketika Ia berperan sebagai Imam, peran-Nya menjadi sempurna. Yesuslah satu-satunya yang mencapai kesempurnaan, oleh karena itu Ialah pokok keselamatan yang abadi bagi kita yang taat kepada-Nya.

Injil hari ini, Iman memampukan melihat

Setiap orang pasti mempunyai harapan dalam hidupnya. Bisa berupa kehidupan yang layak, kedudukan atau karier yang mantap, relasi yang baik, dan sebagainya.

Lalu apa yang menjadi harapan seorang buta, seperti Bartimeus? Tentu agar dia dapat melihat. Selama itu ia hidup dalam kegelapan. Ia hanya bisa mendengar cerita orang tentang cerahnya sinar matahari, tanpa bisa melihatnya. 

Maka ketika mendengar bahwa rombongan Yesus melewati tempat dia duduk mengemis, dia tidak mau melewatkan kesempatan itu sedikit pun. Mungkin sebelumnya ia telah mendengar berita tentang mukjizat-mukjizat yang Yesus lakukan. 

Siapa tahu itulah saatnya bagi dia untuk mengalami mukjizat Yesus. Lalu berteriaklah dia memanggil-manggil Yesus (ayat 47). Dia tak menghiraukan orang-orang yang menyuruh dia diam (ayat 48).

Adalah menarik bila kita melihat bahwa Bartimeus memanggil Yesus dengan sebutan “Anak Daud”. Sebutan ini bagai memperdengarkan pengharapan mesianik. Mungkin ungkapan Bartimeus bernuansa politis, tetapi melalui peristiwa ini Yesus menyatakan kemesiasan-Nya.

Kita juga melihat bahwa harapan Bartimeus yang dilandasi iman, yaitu agar ia dapat melihat, digenapi. Harapan itu menuntun dia memasuki masa pemuridan dan pengenalannya akan Yesus, yang saat itu dalam perjalanan menuju salib. 

Peristiwa ini juga memperlihatkan sikap Bartimeus sebagai seorang murid. Responsnya untuk meninggalkan segala sesuatu demi ikut Yesus, yang dilambangkan dengan “melemparkan jubahnya” (ayat 50), bertolak belakang dengan orang kaya yang tidak rela meninggalkan harta miliknya (ayat 17 dst). 

Keinginannya \’hanya untuk dapat melihat\’ juga bertolak belakang dengan Yakobus dan Yohanes yang minta kedudukan.

Beriman kepada Yesus dan menjadi murid-Nya bukan mengarahkan kita kepada hal-hal yang bersifat materi, tetapi menolong kita untuk memahami makna salib Kristus. Belajarlah dari Bartimeus, yang meskipun buta fisik, tetapi dapat melihat Tuhan dengan imannya.

DOA: Yesus, Putera Daud, kasihanilah aku. Aku percaya akan kasih-Mu dan akan kuat-kuasa-Mu untuk menyembuhkan. Datanglah, ya Tuhan, dan curahkanlah kuat-kuasa penyembuhan-Mu atas diri siapa saja yang berseru kepada-Mu pada saat ini juga. Tuhan Yesus, aku percaya bahwa sekarang pun Engkau dapat menyembuhkan segala penyakit. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/

Posting Komentar untuk "Renungan Hari Minggu 24 Oktober 2021"