Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Hari Kamis 18 November 2021

Renungan Hari Kamis 18 November 2021

Renungan Hari Kamis 18 November 2021

“Kalaupun segala bangsa di lingkungan wilayah raja mematuhi seri baginda dan masing-masing murtad dari ibadah nenek moyangnya serta menyesuaikan diri dengan perintah-perintah seri baginda, namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku terus hendak hidup menurut perjanjian nenek moyang kami. Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan. Titah raja itu tidak dapat kami taati dan kami tidak dapat menyimpang dari ibadah kami baik ke kanan maupun ke kiri!”(1Mak 2:19-22), demikian kata Matatias kepada sang raja.

Apa yang dikatakan oleh Matatias ini baik menjadi permenungan kita, lebih-lebih kata-katanya “Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taruat Tuhan serta peraturan-peraturan Tuhan”. 

Ketika kita akan meninggalkan peraturan atau perintah Tuhan alias berbuat dosa atau jahat, sebenarnya penyegahan dari Tuhan terjadi, antara lain ada perasaan kurang atau tidak enak di hati atau kurang aman. Memang jika orang telah terbiasa berbuat jahat atau berdosa tidak akan peka lagi terhadap pencegahan Tuhan tersebut, tetapi bagi orang cukup baik dan berbudi pekerti luhur ketika akan melakukan apa yang tidak baik atau dosa pasti merasa diperingatkan atau dicegah oleh Tuhan. 

Bagi orang baik ketika ada desakan atau ajakan untuk berbuat jahat atau berdosa akan merasa ‘sesak hatinya’. Marilah dalam hidup sehari-hari kita melatih dan membiasakan diri terus menerus ‘taat pada perintah Tuhan’ , yang bagi kita semua berarti taat pada aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita. 

Jika kita terbiasa taat dan setia pada aturan dan tatanan yang kelihatan, sebagaimana terpampang di tempat-tempat umum, jalanan, kantor, dst.., kiranya dengan mudah kita taat dan setia pada kehendak Tuhan atau bisikan-bisikan Roh Kudus. 

Ketaatan dan kesetiaan pada apa yang kelihatan di satu sisi merupakan bentuk perwujudan ketaatan dan kesetiaan pada kehendak Tuhan dan di sisi lain semakin membuat diri kita setia dan taat kepada kehendak Tuhan.

Mazmur, Persembahan syukur.

Tiap orang, tak terkecuali umat Tuhan, cenderung beranggapan bahwa Tuhan dapat dibuat berkenan dengan berbagai pemberian untuk-Nya. Ternyata tidak demikian! Dalam mazmur ini, seisi bumi (ayat 1-6), baik umat-Nya (ayat 7-15) maupun yang bukan (ayat 16-23) diperingatkan tentang kebenaran itu. 

Perkenan Tuhan tidak dapat dibeli dengan apa pun sebab segala sesuatu adalah milik-Nya dan Ia tidak memerlukan apa pun (ayat 9-13). Sebaliknya, Ia menganugerahkan perjanjian melalui korban sembelihan (ayat 4-5).

Karena itu, tidak ada korban lain yang Allah minta kecuali korban syukur (ayat 14). Hal ini lebih penting daripada korban binatang. Korban syukur adalah respons umat terhadap kebaikan Allah. Korban syukur itu harus diwujudkan melalui sikap hidup sehari-hari. Allah dengan keras mengecam kehidupan orang Israel secara khusus para hamba-Nya yang selalu giat menyelidiki firman-Nya dan berbicara tentang perjanjian-Nya tetapi membenci teguran dan mengesampingkan firman TUHAN (ayat 16-17). 

Bahkan lebih serius lagi mereka berkawan dengan pencuri dan orang berzinah artinya para rohaniwan itu sudah melebur dengan orang-orang yang melakukan perbuatan yang dibenci Allah (ayat 18-20). Itu sebabnya Allah menggolongkan mereka sama dengan orang kafir yang tidak mengenal Allah.

Firman ini menegaskan bahwa Allah menuntut umat-Nya untuk hidup serasi dengan kegiatan ibadah. Amat mudah orang berlaku munafik seperti yang ditegur Tuhan dalam mazmur ini. Berbagai kegiatan kerohanian boleh jadi tidak murni. Bisa saja hal-hal itu adalah untuk menipu hati nurani sendiri, atau menipu orang lain. 

Namun Allah tidak dapat ditipu. Allah akan menghukum orang yang meski beribadah namun tetap saja melanggar perintah-Nya dan hidup tidak beda dengan orang kafir (ayat 22-23). 

Injil hari ini, Sambutan dan penolakan.

Akhirnya perjalanan Yesus hampir mencapai garis akhir. Ia sudah semakin dekat ke Yerusalem. Ia tidak hanya mengetahui apa yang akan terjadi di depan-Nya, tetapi juga mengetahui bahwa sebentar lagi misi yang diemban-Nya sebagai Mesias akan mencapai puncaknya.

Maka tiba waktu bagi Yesus untuk menyatakan Kemesiasan-Nya secara frontal. Sesuai dengan nubuat Zakharia (Zak. 9:9-10), Mesias sebagai raja akan masuk ke Yerusalem dengan mengendarai keledai muda. Pernyataan frontal ini diperlukan agar terbuka pula semua sikap yang selama ini mungkin tersembunyi, sehingga jelas siapa kawan, siapa lawan.

Sambutan gempita dari para murid dan pengikut Yesus yang begitu luar biasa menunjukkan bahwa masyarakat menerima kehadiran Mesias. Dengan mengutip Mazmur 118:26 yang biasa dikumandangkan pada perayaan Pondok Daun para murid menyambut ‘Dia yang datang dalam nama Tuhan’ menuju takhta kerajaan di Yerusalem (Luk. 19:38). 

Sambutan yang gegap gempita itu segera mendapatkan protes dari orang-orang Farisi. Namun, Yesus menolak protes mereka dan menegaskan bahwa batu akan bersorak bila suara manusia dibungkam (ayat 40)!

Jelaslah bagi kita kini: siapa kawan, siapa lawan! Orang Farisi dan kelompok yang selama ini menentang Yesus, yang sekaligus mewakili kelompok orang banyak (terbukti kelak merekalah yang menyalibkan Yesus), dan warga Yerusalem sendirilah yang akan bangkit menentang Yesus.

Untuk itulah Yesus meratapi Yerusalem (ayat 41-44). Oleh karena mereka menolak Mesias maka mereka akan mengalami penghukuman dahsyat. Yesus sekaligus menubuatkan penghancuran kota Yerusalem yang akan terjadi empat puluhan tahun kemudian.

Renungkan: Sekali waktu kelak, semua lutut akan bertelut, semua lidah akan mengaku, Yesus itu Tuhan.

DOA: Roh Kudus Allah, buatlah aku agar mau dan mampu mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadiku, agar dapat mengalami kebangkitan-Nya dalam kehidupan rohaniku. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/

Posting Komentar untuk "Renungan Hari Kamis 18 November 2021"