Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Hari Sabtu 06 November 2021

Renungan Hari Sabtu 06 November 2021

Renungan Hari Sabtu 06 November 2021

Dibasuh oleh Yesus

Betapa hangatnya sikap Rasul Paulus terhadap saudara-saudara seiman dan rekan-rekan sekerjanya yang berada di Roma. Dari cara ia menyampaikan salam, nyata bahwa ia menyadari betapa berartinya persekutuan dengan mereka. 

Tak ragu ia mengakui `utang budinya\’ kepada mereka, mis.: Febe (2) dan suami-istri, Akwila-Priskila (4). Paulus juga sangat memperhatikan kebutuhan mereka, misalnya kepada Febe sehingga ia tidak segan-segan meminta jemaat di Roma untuk menolong pelayan jemaat Kengkrea itu.

Paulus amat terkesan dan menghargai pengabdian rekan-rekannya kepada Tuhan guna melayani jemaat. Sebut saja Maria (6), dua bersaudara: Trifena dan Trifosa yang mungkin adalah diaken-diaken wanita (12a). Demikian juga terhadap Persis (12b). 

Paulus juga menghargai rekan-rekan seperjuangan yang menanggung penderitaan bersama-sama dengan dirinya. Misalnya Andronikus dan Yunias (7), juga Urbanus (9). Mungkin Apeles (`yang telah tahan uji dalam Tuhan\’, ay. 10) dan Rufus (`orang pilihan dalam Tuhan\’, ay. 13), mereka orang-orang muda yang tangguh. Mereka tak luput dari penghargaan dan dorongan Paulus. 

Perhatian dan keakraban yang mesra juga ditunjukkannya kepada ibu dari Rufus, yang dianggap sebagai ibunya juga (13), Epenetus (5), Ampliatus (8), Stakhis (9). Juga kepada jemaat-jemaat rumah.

Alangkah beragamnya orang yang disapa Paulus: ada pria dan ada wanita, ada orang Yahudi dan ada orang nonYahudi. Dalam persekutuan Kristen, setiap orang dengan berbagai latar belakang apa pun boleh menikmati kasih persaudaraan dan bahu-membahu dalam melakukan pekerjaan Tuhan. 

Hari ini, persekutuan Kristen seperti apa yang kita lakukan dan nikmati? Apakah eksklusif dengan orang-orang segolongan dengan kita? Atau inklusif dengan melibatkan mereka yang beragam pelayanan dari kita?

Kehangatan dan ketegasan Kasih sejati mewujud dalam tindakan penerimaan yang hangat, tetapi juga tegas terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran. Kasih menerima orang apa adanya, tetapi tidak serta merta menyetujui apalagi kompromi dengan perbuatan salah orang tersebut. Itulah yang seharusnya nyata dari pribadi anak-anak Tuhan.

Walaupun Paulus penuh kehangatan dan kasih kepada jemaat Tuhan, tetapi ia bersikap sangat tegas terhadap para pengajar palsu (17-18) karena mereka mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran sehingga menimbulkan perpecahan. 

Pada hakikatnya mereka bukan melayani Kristus, melainkan perut mereka sendiri. Sikap mereka licik dan licin, menipu dengan kata-kata muluk dan manis. Paulus menasihati jemaat di Roma agar mewaspadai bahkan menghindari para pengajar palsu itu.

Ketegasan Paulus masih sangat terasa dalam menyikapi `prestasi\’ jemaat di Roma (19-20). Jemaat tersebut termasyhur dengan ketaatannya terhadap Injil. Mengetahui hal itu, Paulus bersukacita. Akan tetapi, ia tidak menghendaki jemaat di Roma terlena. Masih ada berbagai kekurangan di sana-sini. 

Penuturan Paulus yang panjang lebar tentang pengajaran dan praktik hidup kristiani dalam suratnya menunjukkan hal itu. Jemaat di Roma harus banyak berbenah: “bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat” (19b). Dengan demikian Iblis tidak bisa merusakkan iman dan kesaksian mereka, sebaliknya Iblis sendiri akan dihancurkan oleh kesaksian itu.

Kekuatan untuk berdiri teguh memancarkan karakter kudus/kebenaran sekaligus kasih/kepedulian ada pada Allah sendiri (24-25). Saat kita berpegang teguh pada tangan-Nya yang perkasa, sambil dengan setia mengabarkan Injil Yesus Kristus, maka Allah dipermuliakan.

Mazmur, Keagungan Allah abadi.

Pada situasi bagaimana dan atas alasan apa biasanya kita mengagungkan kebesaran Allah? Kenyataan menunjukkan bahwa kita mengagungkan dan memuji kebesaran Allah tergantung pada beberapa hal: pada waktu senang, ketika baru mengalami “berkat” Tuhan, atau karena kita menginginkan “berkat”-Nya. 

Pemazmur melihat bahwa keagungan dan kebesaran Allah tidak tergantung kepada suara pujian manusia dan tidak tertandingi oleh kuasa mana pun sepanjang masa. Apa yang dikatakan pemazmur merupakan suatu pengakuan yang berdasarkan pengalamannya menyaksikan pekerjaan Allah yang ajaib dan besar (ayat 4-7). 

Pekerjaan Allah yang ajaib dan besar itu akan berlangsung terus-menerus dari abad ke abad (ayat 13). Setiap generasi akan mengalami keajaiban pekerjaan Allah dan mereka akan terus memberitakannya (ayat 4-7, 11-13).

Bukan pengakuan filosofis. Pengakuan pemazmur tentang Allah bukanlah suatu pengakuan filosofis (berdasarkan pengetahuan) melainkan bukti karya nyata Allah. Salah satunya dalam kehidupan nyata, kebesaran dan keagungan Allah itu nampak ketika Allah peduli terhadap keadaan manusia yang rapuh dan segala ciptaan lainnya (ayat 8-10, 14-17, 19-20). 

Karena itu kita yang telah mengalami perbuatan agung Allah, layak memberitakannya dalam kata dan tindakan.

Injil hari ini, Allah atau Mamon

Memiliki harta berarti memiliki sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab atas penggunaan harta dapat menjadi sebuah ujian terhadap karakter dan integritas kita. Dan itu dapat dimulai dari hal kecil.

Bila seseorang mampu mengelola dengan benar harta yang dipercayakan dalam jumlah kecil, bukan tidak mungkin ia akan dipercaya juga untuk mengelola harta dalam jumlah besar (10). Begitupun sebaliknya. Bila kita tidak jujur dalam hal-hal kecil, bagaimana mungkin kita bisa dipercaya dalam perkara besar?

Selain itu, kesetiaan kita pada harta duniawi dapat menjadi indikasi kesetiaan kita pada harta surgawi yang jauh lebih bernilai. Jika kita sukar dipercaya dalam menangani harta dunia yang bisa menjadi sumber keangkaraan, bagaimana mungkin kita dipercaya untuk harta surgawi? 

Oleh sebab itu kita perlu memelihara integritas kita, bukan hanya untuk perkara besar tetapi juga untuk masalah kecil. Maka Yesus memperingatkan murid-murid-Nya, untuk tidak memiliki dua tuan, yaitu Allah dan Mamon (13). 

Murid Yesus harus memilih salah satu. Dan itu bisa terlihat dari cara kita menggunakan uang. Jika Yesus tidak menjadi Tuan kita dalam penggunaan uang, maka itu berarti membiarkan uang mengambil tempat Allah dalam hidup kita. 

Bila itu yang terjadi, itu berarti kita telah melakukan hal yang dibenci Allah. Jangan sampai kita seperti orang Farisi yang menjadi hamba uang dan menganggap bahwa kekayaan merupakan tanda perkenan Allah. 

Tunduk di bawah otoritas Allah juga harus ditampakkan dalam nilai moral yang berlaku dalam hidup kita, juga dalam kehidupan pernikahan (18). Menjadi murid Kristus berarti belajar dari nilai-nilai yang diajarkan Guru. Menjadikan Kristus sebagai Tuhan berarti tunduk di bawah otoritas-Nya dan melepaskan diri dari kuasa segala sesuatu yang bukan Tuhan, termasuk uang.

Renungkan: Sudahkah kita tunduk di bawah otoritas-Nya dalam segala aspek hidup kita?

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan kepada-Mu hidupku sendiri. Buatlah hidupku sebagai persembahan kurban yang harum mewangi bagi Allah. Tolonglah aku agar senantiasa waspada mengamati kesempatan untuk menjadi Kristus bagi orang-orang lain, agar dengan demikian setiap orang dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/

Posting Komentar untuk "Renungan Hari Sabtu 06 November 2021"