Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Hari Minggu 05 Desember 2021

Renungan Hari Minggu 05 Desember 2021

Renungan Hari Minggu 05 Desember 2021

“Allah memerintahkan, supaya diratakanlah segala gunung yang tinggi dan segenap bukit abadi, dan supaya ditimbuslah sekalian jurang menjadi tanah yang rata” (Bar 5:7). 

Yang dimaksudkan dengan gunung dan bukit di sini adalah apa saja yang mengganggu atau menghalangi dalam perjalanan hidup, tugas dan panggilan, entah berupa aturan, kebijakan, struktur, impian/harapan, dst.. , yang sering membuat apa yang sederhana menjadi berbelit-belit, yang mudah dipersulit. 

Aneka aturan, kebijakan, struktur atau strategi hendaknya memperlancar perjalanan hidup, tugas dan panggilan, maka jika ada yang mempersendat atau bahkan menutup jalan hendaknya segera diperbaiki atau ‘diratakan’. 

Pada saat ini sering masih banyak terjadi birokrasi yang menghambat pelayanan, bukan memperlancar pelayanan, sehingga birokrat minta dilayani bukan melayani. Sikap dan perilaku dalam meratakan atau memperbaiki adalah melayani; bukankah yang disebut pelayan pada umumnya memperlancar dan mempermudah, tidak pernah mempersulit dan berbelit-belit? 

Semoga para petinggi, pejabat, birokrat atau atasan dapat menjadi teladan sikap hidup dan perilaku melayani; dan marilah kita dukung dambaan para pemimpin Gereja Katolik, Para Uskup dan Paus, yang senatiasa menyatakan diri dalam doa Syukur Agung sebagai hamba yang hina dina, artinya siap sedia melayani umat Allah. 

Dukungan yang diharapkan tentu saja tidak cukup dengan doa-doa, tetapi juga dengan penghayatan, yaitu hidup dan bertindak saling melayani.

Mazmur, Perbuatan Allah masa lampau dan kini.

Setelah menghadapi pergumulan panjang, Tuhan memulihkan keadaan. Kemungkinan saat itu Tuhan membawa orang Israel keluar dari pembuangan di Babilonia. Mimpi menjadi kenyataan! 

Mereka keluar dari pengalaman pahit. Hati mereka diliputi sukacita dan sorak kegirangan. Ingatan yang kuat akan pertolongan Tuhan di masa lampau mendorong mereka untuk kembali melanjutkan iman percaya kepada Tuhan. 

Melalui pengharapan itu pula, umat menemukan jaminan akan kebebasan dan keselamatan mereka. Sekalipun orang Kristen menghadapi pergumulan karena penindasan dan pemasungan hak untuk beribadah, beriman, dan berkarya; tetap ada anugerah Allah yang menguatkan umat untuk berharap dan menikmati kemenangan.

Allah hidup dan dinamis. Allah tidak pernah pasif atau tinggal diam melihat umat-Nya menderita. Seringkali sebelum umat berseru memohon belas kasihan, penyertaan dan pertolongan telah dinyatakan-Nya secara ajaib (ayat 1). 

Kapan dan bagaimana Allah bertindak tidak semata-mata tergantung pada permohonan dan kebutuhan manusia, karena Ia tahu saat dan cara yang tepat menyatakan pertolongan-Nya. Tetaplah berdoa dan berhentilah untuk “mengatur” saat dan cara Allah bekerja, karena Ia tahu yang terbaik bagi kita.

Bacaan kedua, Di hatiku ada kamu.

Kadar persekutuan di sebagian besar gereja masa kini sering terasa dangkal. Hanya sedikit warga gereja yang berbakti bersama, saling kenal atau bersahabat mendalam. Lebih sedikit lagi yang memiliki kasih menyala-nyala untuk saling melayani, mendoakan, mendukung pemimpinnya dengan doa dan tenaga. 

Ini beda sekali dari kondisi gereja di Filipi dan hubungan Paulus dengan para warga gereja ini. Apakah kondisi mereka terlalu ideal atau suatu realitas yang menantang kita untuk berubah?

Hubungan mesra Paulus dan gereja di Filipi terjadi karena Yesus Kristus. Yesus Kristus bukan saja menjadikan mereka bagian dari keluarga Allah atas dasar karya penyelamatan-Nya (ayat 6), tetapi juga membuat mereka menjadi rekan sepelayanan (ayat 7). 

Persekutuan mesra itu terjadi bukan karena dasar-dasar persamaan yang manusiawi sifatnya tetapi semata adalah akibat dari keberadaan mereka yang telah menjadi satu dengan dan di dalam Kristus. 

Persatuan rohani ini tidak diterima begitu saja baik oleh Paulus maupun oleh warga gereja di Filipi. Mereka secara aktif memupuk sikap dan melakukan tindakan-tindakan yang membuat kenyataan rohani indah itu bukan sekadar impian kosong tetapi terwujud nyata.

Pertama, dari pihak Paulus terpancar kuat kehangatan kasih kepada orang percaya yang ia layani itu (ayat 7). “Kamu ada di dalam hatiku,” betapa mesra perasaan Paulus terhadap mereka sebab mereka semua adalah sesama penerima kasih karunia Allah (ayat 7b). Jarak dan penjara tidak dapat merenggangkan hubungan yang dibakar oleh rindu yang dalam (ayat 8). 

Kedua, di pihak warga gereja pun tumbuh kasih mesra dan keikutsertaan melayani yang setimpal. Mereka tidak saja menikmati pelayanan Paulus tetapi bersukacita terlibat mendukung Paulus dalam suka-duka pelayanannya demi Injil.

Bertumbuh menuju kesempurnaan.

Banyak orang memulai sesuatu dengan baik, tetapi di tengah jalan mulai tersendat sampai pada akhirnya mandek. Demikian juga banyak orang Kristen memulai imannya dengan semangat berkobar-kobar, tetapi di tengah jalan ketika tantangan dan kesulitan menerpa, iman itu mulai terseok-seok bahkan pada akhirnya terhenti total. 

Lebih baik tidak memulai sesuatu bila kemudian tidak ada kesungguhan untuk menuntaskannya. Bagaimana kiat menghindari kemandekan iman itu?

Paulus mengenali bahaya berhenti bertumbuh. Oleh karena itu ia terus menerus mendoakan jemaat Filipi agar terus bertumbuh. Kiat untuk luput dari kemandekan bertumbuh adalah terus bertumbuh tanpa henti! 

Pertama, tenaga yang mendorong pertumbuhan iman adalah kasih kepada Tuhan dan sesama. Paulus mendoakan agar jemaat Filipi bertumbuh dalam hal itu (ayat 9a). 

Kedua, kasih bukan semata soal emosi tetapi soal kebenaran. Artinya, kasih sejati adalah kasih dalam kebenaran. Itu sebabnya Paulus berdoa agar mereka tumbuh dalam pengetahuan dan pengertian yang benar dan yang baik (ayat 9). 

Ketiga, pertumbuhan sejati tidak bisa lepas dari kekudusan. Hakikat pertumbuhan iman adalah bertumbuh di dalam Dia dan serupa Dia. Tumbuh dalam kasih dan dalam kebenaran berarti tumbuh dalam pengenalan akan Allah. Semakin akrab hubungan orang dengan Allah, semakin orang itu akan diubahkan oleh pancaran kemuliaan-Nya menjadi makin sekudus semulia Dia.

Dengan kata lain, tiga hal hakiki penangkal kemandekan rohani adalah: kobarkan kasih kepada Allah dan sesama, kenali firman secara mendalam oleh pertolongan Roh, hiduplah serasi dengan sifat kudus Allah dalam keseharian kita. Niscaya, kehidupan rohani kita akan mengalami dinamika yang menggairahkan.

Renungkan: Iman yang bertumbuh tidak hanya merenungkan dengan takjub kasih Allah. Iman yang tumbuh ialah yang aktif mengasihi, menggali firman penuh gairah, mencintai Allah dalam tindakan kudus.

Injil hari ini, Suara yang berseru-seru.

Perikop ini begitu indah. Permulaan pelayanan Yohanes Pembaptis ditaruh di dalam dua penanda sejarah yang begitu kaya data. Yaitu, konteks sejarah dunia pada masa pelayanannya (1-2a) dan konteks pengharapan Perjanjian Lama akan masa menjelang kedatangan Mesias (4-6; lih. Yes. 40:3-5). 

Yohanes memulai era baru yang telah lama dinanti-nantikan para nabi Perjanjian Lama untuk menyiapkan kedatangan penggenap rencana keselamatan Allah bagi manusia.

Berita Yohanes bertujuan mempersiapkan umat Israel menyambut Mesias. Sambutan yang tepat bagi Mesias adalah membuka hati untuk-Nya. Tugas Yohanes adalah menyiapkan hati manusia yang seolah jalan yang jelek menjadi siap untuk dijalani. 

Yohanes langsung menunjuk pada kebutuhan mendasar mereka saat itu, yaitu pertobatan. Umat Israel adalah umat Allah. Namun ketegaran hati mereka menolak teguran nabi-nabi atas perzinaan rohani mereka, menyebabkan mereka ada dalam penghukuman Allah. 

Bahkan sampai pada zaman Perjanjian Baru, mereka masih terbelenggu oleh dosa. Seruan Yohanes mematahkan mitos yang mereka pegang teguh dan percayai, bahwa mereka adalah keturunan Abraham yang berhak menerima segala janji Ilahi. Tanpa pertobatan, mereka semua akan binasa menanggung dosa-dosa mereka.

Pesan keras dari Yohanes Pembaptis ini mengingatkan kita bahwa keselamatan yang Allah anugerahkan kepada manusia dalam Yesus Kristus bukan sesuatu yang mudah dan murah. 

Keselamatan itu sebenarnya mustahil bagi manusia dan harus dibayar mahal oleh Yesus Kristus. Karena itu tunjukkan sikap sepadan kita menyambut Yesus Kristus dalam kehidupan kita dengan kesungguhan menjalani pertobatan tiap hari. 

Dengan kehidupan dan pewartaan yang memuliakan Allah, kita mengundang orang untuk menghampiri kabar baik dalam Yesus Kristus.

Renungkan: Berita pertobatan yang berkumandang adalah pertanda masa anugerah masih berlaku. Bertobatlah, jangan tunggu suara itu lenyap dan kesempatan sirna!

DOA: Datanglah, Tuhan Yesus, dan persiapkanlah jalan dalam diri kami, sehingga kami dapat menerima Engkau dengan lebih penuh lagi. Bukalah hati kami bagi sabda-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami dengan cara-cara yang spesifik dan tidak menyesatkan, bagaimana Engkau berkarya dewasa ini. Tuhan Yesus, tunjukkanlah kepada kami penyelamatan-Mu. Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/

Posting Komentar untuk "Renungan Hari Minggu 05 Desember 2021"