Renungan Katolik Harian Rabu, 21 Januari 2026 Bacaan Injil: Markus 3:1–6
✨ Renungan Katolik Harian Rabu, 21 Januari 2026 Bacaan Injil: Markus 3:1–6
"Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?" Injil: Markus 3:1–6
Ketika Iman Menjadi Kaku
Dalam perjalanan hidup beriman, ada satu bahaya yang sering tidak kita sadari: iman yang perlahan menjadi kaku. Kita rajin berdoa, setia ke gereja, hafal banyak ajaran, tetapi hati bisa saja semakin sempit. Kita mudah menilai, cepat menghakimi, dan sulit berbelas kasih. Bacaan Injil hari ini dalam Markus 3:1–6 menampilkan kontras yang tajam antara hati Yesus yang penuh belas kasih dan hati para ahli Taurat yang tertutup oleh legalisme.
Renungan Katolik harian ini mengajak kita melihat kembali: apakah iman kita sungguh memulihkan, atau justru melukai? Apakah kehadiran kita membawa kehidupan, atau malah ketakutan?
Yesus dan Orang dengan Tangan Lumpuh
Injil hari ini menceritakan bagaimana Yesus masuk ke rumah ibadat. Di sana ada seorang yang mati sebelah tangannya. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat mengamati Yesus dengan cermat. Bukan untuk belajar. Bukan untuk percaya. Mereka mengamati untuk mencari kesalahan. Mereka ingin melihat apakah Yesus akan menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan-Nya.
Yesus mengetahui isi hati mereka. Ia memanggil orang yang sakit itu ke tengah-tengah. Lalu Ia bertanya:
“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”
Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat mengguncang. Sabat diciptakan sebagai hari istirahat, hari kehidupan, hari perjumpaan dengan Allah. Namun di tangan manusia, Sabat berubah menjadi alat penghakiman.
Ketika mereka diam, Yesus memandang mereka dengan marah dan sedih karena ketegaran hati mereka. Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Tangan itu pun menjadi sembuh.
Ironisnya, setelah mukjizat itu, orang-orang Farisi justru bersekongkol untuk membunuh Yesus.
Kesalehan Tanpa Belas Kasih
Di sinilah kita melihat tragedi iman tanpa cinta. Orang-orang Farisi tidak bersukacita melihat orang disembuhkan. Mereka tidak tergerak oleh penderitaan. Mereka hanya peduli pada aturan.
Renungan Injil Markus hari ini menampar kita dengan lembut tetapi tegas: iman yang kehilangan belas kasih bukanlah iman yang hidup. Aturan memang penting. Tradisi Gereja berharga. Disiplin rohani dibutuhkan. Tetapi semuanya kehilangan makna ketika tidak mengalir dari kasih.
Dalam konteks hidup modern, kita bisa sangat “religius” di media sosial, rajin membagikan ayat Kitab Suci, cepat mengutip ajaran Gereja, tetapi tetap keras terhadap sesama. Kita bisa menjadi seperti mereka yang ada di rumah ibadat itu: dekat secara fisik dengan Tuhan, tetapi jauh secara batin.
Yesus: Tuhan yang Selalu Memulihkan
Sikap Yesus sungguh kontras. Ia melihat orang itu, bukan sebagai masalah teologis, tetapi sebagai pribadi yang menderita. Ia menempatkannya di tengah. Ia memulihkan martabatnya. Ia menyembuhkan, meskipun tahu itu akan membawa konsekuensi.
Inilah wajah Allah yang sejati: Allah yang berani melampaui batas demi menyelamatkan. Allah yang lebih mementingkan manusia daripada sistem. Allah yang lebih memilih menyembuhkan daripada mempertahankan citra diri.
Dalam renungan Katolik kaum muda, ini menjadi pesan penting: mengikuti Yesus bukan soal menjadi “paling benar”, tetapi menjadi semakin penuh kasih.
Ketegaran Hati: Penyakit Rohani Zaman Ini
Injil mencatat bahwa Yesus “berdukacita karena ketegaran hati mereka.” Ini bukan sekadar keras kepala. Ketegaran hati adalah keadaan ketika seseorang tidak lagi mampu digerakkan oleh kebaikan. Mukjizat tidak menyentuhnya. Penderitaan tidak menggetarkannya. Doa tidak mengubahnya.
Di zaman digital, ketegaran hati bisa muncul dalam bentuk komentar kejam, penghakiman cepat, budaya membatalkan (cancel culture), dan kepuasan melihat orang lain jatuh. Kita mudah lupa bahwa di balik setiap kesalahan ada manusia yang terluka.
Renungan iman Katolik hari ini mengajak kita bertanya: apakah hati kita masih mudah tersentuh? Atau sudah terlalu sering mengeras?
Hari Sabat dan Makna Istirahat Sejati
Yesus tidak menolak Sabat. Ia justru memulihkannya. Sabat bukan hari untuk takut berbuat salah, tetapi hari untuk membiarkan Allah memulihkan hidup. Sabat bukan tentang larangan, melainkan tentang relasi.
Dalam hidup kita, “hari Sabat” bisa berarti momen ketika kita berhenti menuntut, berhenti membandingkan, berhenti menghakimi — dan mulai mengasihi.
Yesus menunjukkan bahwa istirahat sejati bukan hanya berhenti bekerja, tetapi membiarkan kasih Allah bekerja dalam diri kita.
Tangan yang Lumpuh: Gambaran Jiwa Kita
Orang dengan tangan lumpuh itu adalah cermin kita. Kadang yang lumpuh bukan tubuh, tetapi hati. Kita ingin mengasihi, tetapi takut disalahpahami. Kita ingin memaafkan, tetapi gengsi. Kita ingin berubah, tetapi nyaman dalam kebiasaan lama.
Yesus berkata: “Ulurkanlah tanganmu.”
Ini perintah yang sederhana, tetapi membutuhkan iman. Orang itu bisa saja berkata, “Aku tidak bisa.” Namun ia taat, dan justru dalam ketaatan itulah kesembuhan terjadi.
Renungan Injil hari ini mengajak kita berani mengulurkan bagian hidup yang sakit kepada Tuhan: luka lama, kebencian, rasa iri, kecanduan, ketakutan. Di situlah kuasa Allah bekerja.
Ketika Kebaikan Mengundang Penolakan
Menarik bahwa setelah peristiwa penyembuhan, reaksi yang muncul bukan pertobatan, tetapi rencana pembunuhan. Kebaikan Yesus justru memperjelas kebencian mereka.
Ini mengingatkan kita bahwa hidup benar tidak selalu membuat kita diterima. Kadang justru ditolak. Tetapi Yesus tetap memilih kebaikan.
Bagi remaja dan milenial Katolik, ini pesan yang realistis: mengikuti Kristus tidak selalu populer. Kadang kita akan disalahpahami ketika memilih jujur, memilih mengampuni, memilih peduli pada yang tersisih. Tetapi di situlah Injil sungguh hidup.
Menjadi Gereja yang Menyembuhkan
Renungan Katolik 21 Januari 2026 ini juga menantang wajah Gereja. Apakah komunitas kita menjadi tempat orang disembuhkan, atau tempat orang takut dihakimi? Apakah Gereja kita menjadi rumah sakit bagi yang terluka, atau ruang sidang bagi yang jatuh?
Yesus menempatkan orang sakit di tengah. Artinya, yang lemah bukan gangguan, tetapi pusat perhatian.
Dalam proyek “The Katolik”, pesan ini sangat relevan: iman di era digital harus kembali pada wajah Kristus yang penuh belas kasih.
Penutup: Hati atau Aturan?
Yesus tidak menghapus hukum. Ia memenuhinya dengan kasih. Ia menunjukkan bahwa inti iman bukan terletak pada apa yang boleh atau tidak boleh semata, tetapi pada apakah hidup kita memuliakan Allah dengan menghidupkan sesama.
Hari ini, Yesus juga memandang kita. Ia bertanya tanpa suara:
“Mana yang kau pilih — memelihara aturan, atau memelihara manusia?”
Kiranya renungan Injil Markus ini menolong kita untuk semakin menyerupai hati Kristus: tegas dalam kebenaran, tetapi lembut dalam kasih.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau melihat yang terluka dan memulihkan mereka.
Lunakkanlah hati kami yang sering mengeras.Bebaskan kami dari iman yang dingin dan menghakimi.
Ajarlah kami memilih kebaikan, bahkan ketika itu tidak populer.
Pulihkanlah tangan-tangan hati kami, agar kami mampu mengasihi seperti Engkau mengasihi.
Amin.
Demikianlah Renungan Katolik Harian Rabu, 21 Januari 2026 Bacaan Injil: Markus 3:1–6, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

