Renungan Katolik Harian Rabu, 7 Januari 2026 Bacaan Injil: Markus 6:45-52

Renungan Katolik Harian Rabu, 7 Januari 2026 Bacaan Injil: Markus 6:45-52

✨ Renungan Katolik Harian Rabu, 7 Januari 2026 Bacaan Injil: Markus 6:45-52

“Tenanglah! Aku ini, jangan takut.”

1. Ketika Tuhan Meminta Kita Berjalan Mendahului

Injil Markus 6:45–52 dibuka dengan hal yang menarik:

Yesus yang menyuruh para murid naik ke perahu dan berangkat lebih dulu.

Para murid tidak sedang lari dari masalah.

Mereka mengikuti perintah Tuhan.

Namun justru ketika mereka taat, mereka menghadapi angin sakal, badai, dan situasi yang mengguncang perahu.

Ini sering terjadi dalam hidup rohani:

Ada masa ketika kita sudah berusaha benar, sudah berdoa, sudah melayani, sudah jujur, sudah mengikuti kehendak Tuhan…

Namun tetap datang masalah, badai, dan tekanan.

Ketaatan tidak menghindarkan kita dari badai,

tetapi menjamin bahwa Yesus akan datang tepat pada waktunya.

2. Yesus Masih Berdoa, Meski Murid-Murid Sedang Berjuang

Ketika murid-murid berjuang melawan angin sakal, Yesus tidak langsung menghampiri mereka. Markus menulis:

“Ia naik ke atas bukit untuk berdoa.”

Ini bukan tanda Ia mengabaikan mereka.

Ini tanda bahwa tindakan Yesus tidak panik seperti manusia.

Ada ritme ilahi dalam cara Tuhan bekerja:

Tenang, teguh, tidak terburu-buru, dan tetap penuh kasih.

Begitu pula dalam hidup kita.

Saat kita sedang “mendayung melawan angin malam,” Tuhan tidak diam.

Ia sedang bekerja, sedang melihat, sedang berdoa bagi kita—bahkan ketika kita tidak melihat-Nya.

3. Tuhan Melihat Lebih Jauh dari yang Kita Kira

Injil menegaskan:

“Melihat mereka kesukaran mendayung…”

Yesus melihat bahkan sebelum Ia datang mendekat.

Sering kali kita merasa Tuhan “tidak peka” terhadap pergumulan kita.

Padahal, Ia melihat lebih cepat dan lebih dalam daripada yang kita sadari.

Pandangan-Nya mencapai titik-titik yang tidak dijangkau oleh pikiran kita:

— isi hati

— ketakutan tersembunyi

— perjuangan harian

— air mata yang tidak terlihat

— luka yang tidak diceritakan pada siapa pun

Yesus melihat. Dan itulah awal dari seluruh mukjizat dalam Markus 6:45–52.

4. Ketika Badai Besar, Yesus Hadir dengan Cara yang Tidak Terduga

Yesus tidak datang dengan perahu lain.

Tidak datang dengan malaikat.

Tidak datang dengan kilat dan suara besar.

Ia datang berjalan di atas air, melintasi angin sakal.

Hadirnya Tuhan sering tidak seperti yang kita bayangkan.

Tidak sesuai ekspektasi.

Tidak sesuai waktu kita.

Kadang datang dengan cara lembut, tidak spektakuler, tetapi penuh kuasa.

Namun pada awalnya para murid tidak mengenali Yesus.

Mereka malah berpikir Ia hantu dan menjadi makin takut.

Itulah kenyataan iman:

Ketika kita sedang tertekan, kita bisa salah mengartikan kehadiran Tuhan.

Apa yang sebenarnya pertolongan, malah kita lihat sebagai ancaman.

Apa yang sebenarnya jawaban, malah kita anggap masalah.

5. “Tenanglah! Aku ini, jangan takut.”

Dalam badai yang berkecamuk, Yesus tidak memberikan penjelasan panjang.

Ia memberi tiga kata yang mengubah malam itu:

“Tenanglah!”

“Aku ini.”

“Jangan takut.”

Ini bukan sekadar kata-kata motivasi.

Ini deklarasi ilahi—ungkapan identitas Allah sendiri.

“Aku ini” mengingatkan pada penyataan Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.”

Dengan kata lain:

Jika Aku ada di sini, engkau aman.

Jika Aku hadir, badai tidak bisa menguasaimu.

Jika Aku berbicara, takutmu akan mereda.

6. Mukjizat Tidak Menghilangkan Badai, Tetapi Mengubah Dampaknya

Ketika Yesus naik ke perahu, Markus menulis:

“Angin pun redalah.”

Badai bisa mereda, tetapi lebih penting lagi:

ketakutan murid-murid mereda lebih dulu.

Hati mereka berubah sebelum situasi berubah.

Inilah sifat mukjizat:

Tuhan menenangkan jiwa kita sering kali lebih cepat daripada menenangkan keadaan.

Dalam renungan Katolik harian, Markus 6:45–52 mengingatkan bahwa:

Tuhan tidak selalu menyingkirkan masalah,

tetapi selalu menyediakan damai agar kita mampu bertahan.

7. Kita Sering Tidak Mengerti karena Hati Mengeras

Bagian akhir Injil berkata:

“Sebab mereka belum mengerti tentang roti itu, karena hati mereka telah menebal.”

Apa hubungan antara badai dan roti?

Mukjizat penggandaan roti baru saja terjadi hari sebelumnya.

Mereka sudah melihat kuasa Yesus.

Sudah menyaksikan berlipatnya mukjizat.

Tetapi tetap panik ketika badai datang.

Ini terjadi juga pada kita:

Kita memiliki begitu banyak kisah penyertaan Tuhan, tetapi mudah lupa ketika badai baru muncul.

Maka renungan hari ini mengajak kita untuk:

Mengingat kembali kebaikan Tuhan

sebagai dasar iman saat menghadapi badai berikutnya.

Refleksi Pribadi

  • Badai apa yang sedang aku hadapi hari ini?
  • Apakah aku percaya bahwa Yesus melihat pergumulanku?
  • Apakah aku berani mendengarkan suara-Nya: “Tenanglah, Aku ini, jangan takut”?
  • Bagian hati mana yang perlu aku lunakkan agar bisa mengenali kehadiran Tuhan?

Doa Penutup

Tuhan Yesus, dalam badai hidupku, datanglah dan sentuhlah hatiku.

Tenangkan jiwaku, bukalah mataku agar aku mengenali kehadiran-Mu.

Ajari aku percaya bahwa Engkau selalu melihatku,

selalu datang tepat waktu, dan selalu berkata:

“Tenanglah, Aku ini, jangan takut.”

Amin.

Demikianlah Renungan Katolik Harian Rabu, 7 Januari 2026 Bacaan Injil: Markus 6:45-52, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url