Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Hari Sabtu 25 September 2021

Renungan Hari Sabtu 25 September 2021

Renungan Hari Sabtu 25 September 2021

Yerusalem masih dalam keadaan yang memprihatinkan pada akhir pembuangan di Babel. Jumlah orang yang kembali relatif sedikit. Allah memberikan semangat kepada mereka dengan mengatakan bahwa Ia belum selesai dengan Yerusalem; kota itu akan dijadikan tempat paling mulia di bumi. 

Penglihatan ketiga ini memandang ke depan kepada kerajaan seribu tahun, ketika kota ini tidak akan bertembok lagi dan penuh sesak dengan orang banyak. Dalam kerajaan seribu tahun, Yerusalem tidak akan memerlukan tembok karena Tuhan sendiri akan menjadi tembok berapi di sekitarnya (bd. Yes 4:5). 

Bahkan yang lebih penting, kemuliaan Allah di tengah-tengah umat-Nya akan menjadikan seluruh kota itu suatu bait suci yang dipenuhi kehadiran-Nya (bd. Yeh 43:1-7). Bahkan kini, kehadiran dan kemuliaan Allah di antara umat-Nya adalah sesuatu yang seharusnya didambakan dan dicari oleh gereja melebihi segala sesuatu yang lain. (Yer 31:1-5).

Sesungguhnya Aku datang dan diam di tengah-tengahmu. Kegirangan Sion akan lengkap dengan kembalinya sang Mesias dalam penampakan-Nya yang kasat mata. Banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada TUHAN. Pada masa kekuasaan dan kemuliaan-Nya, Mesias akan menarik banyak bangsa kepada-Nya. 

Aku akan diam di tengah-tengahmu. Untuk yang ketiga kalinya dalam pasal ini, nabi menyatakan bahwa Mesias akan tinggal di tengah-tengah umat-Nya. Yehuda sebagai milik-Nya. Dengan banyaknya bangsa-bangsa yang akan diberkati dalam Kristus TUHAN tidak akan mengurangi kemuliaan Israel. Israel akan tetap menjadi ahli waris TUHAN, dan Kota Kudus itu akan tetap merupakan tempat kediaman-Nya. (Yer 31:10-11)

Mazmur, Hari depan yang lebih baik.

Di dunia ini tidak ada yang dapat menandingi kualitas kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. Demikian pula tidak ada yang dapat menandingi duka seorang ibu yang kehilangan anak-anaknya. Namun dalam nas kita hari ini para ibu bangsa Yehuda diperintahkan oleh Allah supaya berhenti menangis karena kehilangan anak-anak mereka. Mengapa? 

Sebab masih ada harapan bagi masa depan mereka. Anak-anak mereka akan kembali. Penderitaan yang mereka alami bukanlah babak akhir bagi mereka, karena kebahagiaan dan kedamaian akan segera menggantikannya.

Firman kepada para ibu Yehuda merupakan bagian dari janji pengharapan yang diberikan kepada bangsa Yehuda. Semua janji Allah itu menyatakan bahwa masa depan mereka sangat cerah. Allah tidak hanya akan mempersatukan mereka kembali namun Allah sendiri yang akan memelihara dan menjaga keamanan mereka setelah dipersatukan, sehingga tidak akan ada lagi musuh yang dapat menghancurkanya (10). 

Jika Allah adalah gembalanya, apa yang harus ditakutkan oleh domba-domba-Nya. Mereka telah dilepaskan dari penguasa kuat yang menindas dan mengeksploitasinya (11). Kemerdekaan sebuah bangsa merupakan pintu gerbang menuju kebahagiaan di masa depan bagi sebuah bangsa. Apa yang akan terjadi pada taman yang diairi dengan baik? 

Itulah yang akan terjadi pada Yehuda sebab bukit Sion sudah dipulihkan. Ke sanalah Yehuda akan beribadah. Ke sanalah Yehuda akan menemukan sumber air kehidupan. Karena kebajikan Allah hidup mereka semuanya terjamin baik anak-anak, anak muda, hingga orang tua, baik yang dilayani maupun yang melayani.

Janji Allah ini pasti sebab Allah sendiri yang menjanjikan. Bahkan jika Allah tidak mau atau tidak dapat menepati janji-Nya, maka Nama Allah akan dipertaruhkan, sebab bukankah Ia sendiri sudah menyatakan semuanya bukan saja kepada bangsa Yehuda tapi juga kepada bangsa- bangsa lain di seluruh pelosok dunia (10)? Dialah Allah pengharapan yang pasti bagi masa depan yang lebih baik.

Jika Yehuda yang telah memberontak kepada Allah dijanjikan masa depan yang penuh harapan, lebih-lebih lagi umat Kristen yang sudah dibebaskan dari perbudakan dosa tidakkah hari depan kita juga penuh harapan?

Injil hari ini, Serangkaian peristiwa seputar diri Yesus makin menegaskan bahwa Ia adalah “Mesias dari Allah” (9:20). Peristiwa-peristiwa seperti pengusiran roh-roh jahat, pembangkitan orang mati, pemberian makan lima ribu orang, pemuliaan di atas gunung, dll., mungkin terasa beruntun untuk mereka pahami. 

Tiga perikop yang kita baca hari ini menunjukkan pergumulan mereka untuk memahami panggilan diri mereka sebagai murid-murid Yesus di tengah arus penyingkapan yang begitu deras ini. Mereka sulit memahami pemberitahuan Yesus bahwa Ia harus menderita (44, bdk. 22). 

Bila ini saja masih sulit mereka terima, apalagi aplikasi ikutan bahwa sebagai para pengikut Yesus, mereka pun harus ikut memikul salib. Padahal mereka sendiri dipenuhi angan-angan kebesaran dan posisi tinggi. Sebagai antidot (obat penawar) bagi “pikiran” ini, Yesus mengambil seorang anak kecil dan, yang lebih mengejutkan lagi, menjadikannya sebagai teladan bagi para calon `pembesar’ Kerajaan Allah. 

Mereka juga lebih mementingkan masalah “kelompok dalam” versus. “orang luar” ketimbang menyadari bahwa orang tersebut sama-sama melakukan pelayanan dalam nama Tuhan Yesus. Tiga peristiwa ini menunjukkan pergumulan dan koreksi yang harus mereka alami. Betapa Tuhan membentuk mereka.

Pelajaran yang diberikan nas ini sangat luar biasa. Sebagai murid-murid Kristus, banyak di antara kita layak digolongkan sebagai aktivis-aktivis pelayan. Sayangnya, hingar-bingar pelayanan kerap membuat kita berorientasi pada status dan hierarki serta eksklusivisme kelompok. 

Padahal, kita dipanggil untuk memikul salib demi Dia, menjadi orang-orang hina demi Tuhan, dan bersekutu bersama semua orang yang menyebut nama-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Inilah kita di dalam Dia.

Renungkan: Bukan kemampuan dan talenta, tetapi bagaimana Tuhan membentuk kita seturut dengan kehendak-Nya, itulah yang mendefinisikan diri kita.

DOA: Bapa kami yang ada di surga, Allah yang Mahabaik dan sumber segala kebaikan. Hanya Engkaulah yang baik. Bapa, tulislah pesan salib dalam hati kami masing-masing, agar kami dapat menjadi semakin matang dalam hidup kami dalam Roh, melalui kemenangan Putera-Mu terkasih atas dosa dan maut. Amin. (Lucas Margono)

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/

Posting Komentar untuk "Renungan Hari Sabtu 25 September 2021"