Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Hari Jumat 29 Oktober 2021

Renungan Hari Jumat 29 Oktober 2021

Renungan Hari Jumat 29 Oktober 2021

Kenajisan menjalar

Banyak orang tidak mau berkorban bagi orang lain, baik akibat kesalahan sendiri, apalagi sebagai akibat kesalahan orang lain. Akan tetapi, itulah yang Paulus lakukan bagi saudara-saudaranya, orang Israel.

Paulus mengawali pembicaraan panjang tentang pilihan atas Israel di antara bangsa-bangsa lain dalam karya penyelamatan Allah (ps. 9-11) dengan nada emosional. Sebagai keturunan Yahudi, Rasul Paulus tetap mengakui dan memelihara ikatan persaudaraan dengan bangsanya. 

Ia tahu bahwa kedudukan Israel begitu istimewa. Mereka umat pilihan Allah, menerima kemuliaan, perjanjian-perjanjian, dan Taurat. Mereka adalah keturunan para bapa leluhur yang kemudian menurunkan Mesias (9:4-5a). Sayang, segala keistimewaan itu tak membuat Israel percaya dan menyambut Mesias. Sebab itu, mereka harus menanggung hukuman.

Mengapa demikian? Bukankah mereka juga percaya kepada Allah, meskipun tidak percaya Yesus sebagai Mesias? Yesus adalah penyataan yang lengkap tentang Allah. Kita tidak dapat sepenuhnya mengenal Allah, bila dipisahkan dari Yesus. 

Juga Allah telah menunjuk Yesus untuk memperdamaikan manusia dengan Allah. Maka tidak ada jalan lain bagi manusia untuk datang kepada Allah, kecuali melalui Yesus. Seperti orang lain, orang Yahudi juga hanya dapat menemukan keselamatan melalui Yesus. Bila mereka menolak Kristus maka mereka hanya akan menemui kebinasaan.

Paulus sangat berdukacita. Ia sulit memahami bagaimana mungkin Israel yang memiliki hak istimewa yang begitu luhur itu, ternyata tidak termasuk golongan umat yang percaya! Itu sebabnya ia rela pasang badan dengan menukarkan keselamatannya bagi keselamatan bangsanya (3). 

Seberapa besarkah perhatian Anda pada orang lain yang belum kenal Yesus? Bersediakah Anda mengurbankan waktu, tenaga, uang, dst. agar mereka dapat datang pada Yesus?

Mazmur, Nyanyian syukur bagi Tuhan.

Memuji Tuhan bisa dilakukan dengan kata, namun juga perlu terpancar dalam hidup. Pemisahan antara pujian dengan suara dan pujian dengan tindakan membuat hidup kita terpecah. Tidak demikian dengan mazmur yang kita baca ini. 

Mazmur ini dimulai dengan memusatkan perhatian pada ibadah di Bait Allah Yerusalem, dan merajut tema kemurahan hati Allah dan ciptaan-Nya. Allah berbelas kasih untuk memulihkan kembali mereka yang telah dibuang dan diserakkan (ayat 2-3). Ia berada luar jangkauan manusia, sehingga kasih setia-Nya sulit untuk dipahami.

Dengan alat musik dan nyanyian, sekarang jemaat diundang untuk menyanyikan nyanyian syukur kepada Allah (ayat 7-11). Kebaikan- Nya terlihat jelas dalam alam ciptaan, dengan menyediakan hujan dan makanan. Bahkan anak-anak gagak yang biasanya ditinggalkan induknya pun diberikan makanan oleh Allah. 

Betapa jauh lebih besar Allah mengasihi manusia. Allah juga tidak ingin manusia sombong dan hidup berdasarkan kekuatannya sendiri. Allah senang kepada mereka yang dengan rendah hati mau bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, yang berharap pada kasih setia-Nya.

Bagian ketiga mengundang Yerusalem untuk memuji Tuhan karena pemeliharaan-Nya yang senantiasa. Pemeliharaan ini terwujud dalam berbagai cara. Allah menjamin keamanan kota dan memberikan keyakinan bahwa akan ada populasi yang terus bertahan di kota itu. Allah memberikan shalom bagi seluruh daerah. 

Istilah shalom di sini berarti satu keadaan yang ideal, penuh bahagia dan semua kebutuhan tercukupi. Masyarakat damai dan sentosa. Siklus alam juga ada dalam pemeliharaan tangan Allah, mulai dari salju turun sampai mencair lagi dan demikian seterusnya. Allah mengendalikan alam secara sempurna.

Yang lebih mengagumkan, pemeliharaan Allah dinyatakan dalam hubungan perjanjian dengan umat-Nya. Umat-Nya harus hidup di bawah ketetapan Allah karena itu adalah hak istimewa Israel.

Injil hari ini, Jangan keras kepala!

Keberadaan Yesus selalu menarik perhatian orang Farisi. Mereka selalu saja ingin tahu apa yang akan Yesus katakan atau lakukan, walau dengan maksud negatif.

Begitu pula ketika Yesus berada di tengah-tengah mereka saat perjamuan makan di rumah salah seorang pemimpin mereka (1). Mungkin karena takut salah bicara, mereka tak mau memberikan pendapat tentang penyembuhan yang dilakukan pada hari Sabat. 

Mungkin juga mereka berdiam diri karena berharap Yesus terjebak dalam perkataan atau perbuatan-Nya. Tetapi sampai Yesus selesai menyembuhkan seorang yang sakit busung air, mereka tidak juga berkomentar apa-apa (4). Padahal apa yang Yesus lakukan, jelas bertentangan dengan tradisi mereka. 

Namun pertanyaan Yesus memang tidak terbantahkan. Jika anak atau lembu mereka terperosok ke dalam lubang pada hari Sabat, mereka pasti akan bersegera menolongnya (5). Bila demikian, mengapa Yesus dilarang untuk menolong orang yang sedang sakit? Pertanyaan ini secara gamblang menelanjangi kemunafikan mereka. 

Mereka memang seringkali mengajar dan menuntut orang lain untuk melakukan apa yang mereka ajarkan, namun membuat pengecualian bagi diri mereka sendiri. Sebab itu mereka hanya bisa diam menghadapi Yesus, tanpa bantahan. Namun diam bukan karena setuju dengan perkataan Yesus, juga bukan karena mereka merasa bersalah. 

Diam sebagai bentuk pemberontakan secara pasif. Tidak ada yang mereka pelajari dari perkataan Yesus, apalagi pengakuan bersalah.

Betapa keras kepalanya mereka! Meskipun mukjizat sudah terpampang di depan mata dan kuasa Yesus nyata tak terbantah, tetap saja mereka mengeraskan hati dan tidak mau mengakui Ketuhanan Yesus. 

Padahal Tuhan telah menyatakan anugerah-Nya, tetapi mata mereka tetap saja buta! Keras kepalanya orang Farisi menjadi peringatan keras juga buat kita. Kuasa dan keajaiban-Nya telah gamblang disajikan dalam Alkitab. Respons kita yang seharusnya cuma satu. Percayailah Tuhan Yesus, niscaya kita akan selamat!

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/

Posting Komentar untuk "Renungan Hari Jumat 29 Oktober 2021"