Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Hari Minggu 03 Oktober 2021

Renungan Hari Minggu 03 Oktober 2021

Renungan Hari Minggu 03 Oktober 2021

Diciptakan setara

Bila dalam kisah penciptaan pertama secara konseptual sudah dijelaskan bahwa pria dan wanita diciptakan setara sebagai gambar Allah (Kej. 1:27), maka di bagian ini, proses penciptaan wanita ditunjukkan untuk memperlihatkan kesetaraan itu.

Pertama, wanita diciptakan untuk menjadi penolong yang sepadan (ayat 18). Mengapa? Karena tugas manusia untuk mengelola taman Eden bukan untuk dikerjakan sendirian. Semua binatang yang diciptakan Allah sebelum manusia pertama dijadikan, tidak dapat disepadankan dengan dirinya (ayat 20). Maka wanita diciptakan sebagai “penolong yang sepadan” untuk mendampingi manusia itu dalam menunaikan tugas mulia tersebut. Penolong sering dimengerti sebagai sekadar asisten yang berstatus lebih rendah daripada yang ditolong. Padahal kata yang sama digunakan juga untuk menyatakan bahwa Allah adalah penolong Israel (Ul. 33:26). Oleh karena itu, penolong di sini justru memiliki fungsi komplementer artinya saling melengkapi. Wanita diciptakan untuk melengkapi pria, sehingga keduanya dapat mewujudkan karya pemeliharaan Allah bagi dunia ini.

Kedua, wanita diciptakan dari rusuk pria. Itu sebabnya manusia itu bisa menyatakan tentang pasangannya, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku …” (ayat 23). Ada tekanan dengan kesatuan esensi pria dan wanita. Kesatuan esensi inilah yang mendorong adanya persatuan suami istri yang melebihi sekadar persatuan tubuh (seks), melainkan juga dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Kesetaraan inilah yang harus mendasari pernikahan Kristen. Pria dan wanita yang sama derajat di hadapan Allah memberi diri dipersatukan agar dapat dipakai Allah untuk menjadi alat anugerah-Nya bagi dunia ini. Persatuan ini harus dipelihara dengan tetap saling memberi diri sebagai wujud saling melengkapi, serta menjaga keterbukaan satu sama lainnya (ay. 25, “keduanya telanjang, … tetapi mereka tidak merasa malu”).

Mazmur, Berkat atas rumah tangga, dimulai dari kehidupan pribadi yang benar di hadapan Tuhan: hidup takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Sikap hidup seperti ini harus dimulai dari masing-masing pribadi anggota keluarga, sehingga keluarganya bahagia. 

Seorang suami sebagai kepala keluarga mengambil peran pemimpin rohani bagi keluarganya. Secara pribadi, seharusnya ia memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, sehingga dapat mengarahkan keluarganya kepada jalan-Nya.

Keluarga bahagia. Di sini digambarkan seorang suami yang hidup benar di hadapan Tuhan dan memenuhi tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Ia memiliki istri dan keturunan yang membahagiakan keluarganya. 

Istrinya akan menjadi seorang wanita yang menyenangkan hati suami dan anak-anaknya, sehingga suasana rumah damai dan nyaman. Demikian pula dengan anak-anaknya, kelak akan menjadi pewaris keluarga yang berguna.

Berkat yang benar dari Zion. Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya atas rumah tangga yang menjaga kebenaran hidupnya di hadapan Tuhan, sehingga kebahagiaan sejati menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Renungkan: Sudahkah keluarga Anda hidup takwa pada Tuhan sehingga diberkati Tuhan?

Bacaan kedua, Imam Besar yang menang dan berhasil

Apakah salah satu hal yang paling ditakuti manusia? Kematian. Manusia takut mati karena dosa-dosanya menghantuinya. Manusia takut mati karena ia menyadari bahwa kematian fisik bukan akhir segala-galanya. 

Sebagai makhluk rohani, manusia sadar rohnya yang kekal masih menghadapi kemungkinan maut kekal, yaitu hukuman kekal yang diberikan Allah atas semua perbuatan dosanya selama hidupnya di dunia ini.

Oleh kehendak Allah, Tuhan Yesus menderita untuk membebaskan manusia dari hukuman kekal tersebut. Ia menderita bahkan sampai mati, supaya melalui kematian-Nya Ia mengalahkan dan memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut (ayat 14-15). 

Tuhan Yesus datang sebagai manusia supaya Ia boleh mewakili manusia dalam menghadapi maut. Kemanusiaan Tuhan Yesus adalah riil. Ia benar-benar menghayati kemanusiaan-Nya sehingga Ia bisa menyebut manusia sebagai sesama-Nya, sebagai saudara-Nya (ayat 11-13). 

Oleh sebab itu, Tuhan Yesus dapat mengerti dan menghayati pergumulan manusia melawan dosa. Bahkan Ia telah menghadapi pencobaan yang membawa-Nya mengalami penderitaan.

Hanya satu yang membedakan diri-Nya dari manusia lain. Ia tidak berbuat dosa. Dengan demikian, Tuhan Yesus bisa menjadi Imam Besar yang mewakili umat manusia memohonkan belas kasih dan pengampunan Allah (ayat 16-18). Inilah dua kemenangan Tuhan Yesus: menang terhadap kuasa maut dan menang dalam mendamaikan manusia dengan Allah.

Di dalam Tuhan Yesus, setiap orang percaya tidak lagi menghadapi maut kekal. Orang Kristen tidak perlu lagi takut menghadapi kematian fisik karena ia sudah diperdamaikan dengan Allah. Bahkan kita bisa dengan bebas dan berani menghampiri Allah di dalam Tuhan Yesus untuk segala keluhan dan pergumulan kita karena Dia mengerti dan peduli akan penderitaan kita.

Renungkan: Bersama Tuhan Yesus kita berani menjalani hidup ini dan siap menghadapi kematian.

Injil hari ini, Bercerai kita runtuh

Berita perceraian sering meramaikan program infotainment di televisi kita. Muncullah anggapan bahwa kaum selebritis doyan kawin cerai. Celakanya, masalah ini mulai menggerogoti keluarga Kristen. Lalu perlukah gereja mentolerir perceraian untuk menyesuaikan diri dengan zaman?

Sebenarnya perceraian bukan masalah di zaman modern saja. Pada zaman Musa pun sudah terjadi perceraian. Bahkan orang Farisi percaya bahwa PL mengizinkan pria untuk menceraikan istrinya dan kemudian menikah lagi (ayat 4, Ul. 24:1-4). 

Yesus membandingkan pandangan orang Farisi dengan pandangan Allah mengenai pernikahan. Allahlah yang membentuk pernikahan, yang merupakan kesatuan antara seorang pria dan seorang wanita. Pernikahan ini menghasilkan sebuah hubungan yang unik, yaitu hubungan “satu daging”. 

Hubungan itu lebih erat daripada hubungan orangtua-anak (band. Kej. 2:24). Pernikahan bukan sebuah kontrak yang berlaku sementara waktu saja dan bukan kesatuan yang dapat dibubarkan begitu saja. Sebab itu adalah salah bila manusia memisahkan suatu kesatuan yang telah dipertautkan Allah. 

Maka dalam pandangan Allah, tidak ada perceraian. Baik suami maupun istri tidak boleh menceraikan pasangan mereka dan kemudian menikah lagi dengan orang lain. Orang yang melakukan hal itu dianggap berzinah (ayat 11-12).

Kebanyakan pasangan yang ingin bercerai selalu beralasan bahwa mereka tidak cocok lagi atau sudah beda prinsip. Mereka menganggap bahwa bercerai adalah hal terbaik yang dapat mereka lakukan, daripada mereka bertengkar terus, yang akan berakibat buruk pada anak-anak mereka. 

Bagaimana solusi terhadap masalah demikian? Jangan pernah melihat perceraian sebagai suatu solusi, meski situasinya buruk. Bila demikian, perceraian akan mudah sekali dilakukan. Pertengkaran suami istri memang tidak baik dilihat anak-anak, tetapi perceraian juga akan berakibat buruk bagi mereka. Sebab itu kembalilah pada Dia yang mempersatukan, agar Ia menolong terjadinya pemulihan.

Seperti anak-anak

Perhatian terhadap anak-anak di zaman modern ini sudah cukup baik. Orang tua masa kini mengupayakan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Makanan pun selalu diusahakan makanan sehat, bukan asal kenyang.

Budaya Yahudi menganggap anak-anak tidak berarti apa-apa. Budaya tersebut mempengaruhi kesan awal para murid ketika orang membawa anak-anak kecil pada Yesus. Bagi mereka, anak-anak merupakan gangguan. Sebab itu mereka melarang orang membawa anak-anak kepada Yesus. 

Namun Yesus tidak berpikir begitu. Ia marah ketika anak-anak itu dihalanghalangi untuk datang kepada-Nya (ayat 14). Akan tetapi, Yesus malah memeluk dan memberkati mereka. Tindakan ini memperlihatkan bahwa Tuhan tidak menyepelekan anak-anak. Ia menghargai anak-anak. 

Mereka adalah milik-Nya juga. Ia tahu bahwa mereka pun memerlukan Dia, dan karena itu mereka pun harus dilayani. Sebab itu orang dewasa seharusnya membuka jalan bagi anak-anak untuk datang pada Yesus dan bukan malah jadi penghalang.

Selain itu, Yesus juga memperlihatkan kualitas seorang anak sebagai gambaran penting bagi orang yang ingin memasuki kerajaan Allah (ayat 14). Ia memang tidak menjabarkan kualitas macam apa yang dimiliki anak-anak. 

Namun mari kita perhatikan kualitas yang dimiliki anak-anak tanpa melihat latar belakang ras, budaya, atau apapun. Anak-anak dimanapun selalu berpikir sederhana. Mereka juga selalu merasa membutuhkan pertolongan orangtuanya. 

Maka bila merasa membutuhkan pertolongan dan perhatian, tanpa malu-malu mereka akan dengan segera berteriak meminta pertolongan dan perhatian orangtuanya. Inilah kualitas yang perlu ada dalam diri orang yang memasuki kerajaan Allah. 

Ketika me-nyadari bahwa diri kita perlu Tuhan, janganlah mempertimbangkan terlalu banyak hal yang memberatkan kita untuk datang pada Dia. Seperti seorang anak, datanglah segera secara spontan dan nyatakan bahwa kita memerlukan Dia. Niscaya Dia akan menyambut kita.

DOA: Bapa surgawi, betapa besar rasa syukurku untuk cintakasih-Mu kepadaku, teristimewa dalam hidup perkawinanku. Penuhilah hatiku dengan cintakasih lebih mendalam lagi kepada-Mu, kepada pasangan hidupku serta seluruh anggota keluargaku. Semoga cintakasih-Mu bagi segenap anggota keluargaku mengalir juga – melalui diriku dan para anggota keluargaku – untuk membawa kesembuhan dan damai-sejahtera kepada orang-orang lain di luar keluargaku. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/ 

Posting Komentar untuk "Renungan Hari Minggu 03 Oktober 2021"