Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Hari Selasa 07 Desember 2021

Renungan Hari Selasa 07 Desember 2021

Renungan Hari Selasa 07 Desember 2021

Memberitakan kabar baik

Berita apa yang paling dinanti-nanti oleh orang yang sedang berada di penjara? Berita bahwa masa hukuman mereka sudah selesai dan mereka akan segera bebas. Pertanyaannya, apakah umat Israel yang di pembuangan memiliki pengharapan bahwa satu hari kelak penghukuman Allah akan berakhir?

Bagian kedua kitab Nabi Yesaya ini (pasal 40-66) adalah kumpulan nubuat pemulihan yang Allah lakukan terhadap umat-Nya, yang akan selesai menanggung hukuman karena dosa-dosa mereka. Pemulihan itu tidak hanya untuk kebebasan, tetapi untuk kembali menjalankan fungsi semula mereka yaitu menjadi terang bagi bangsa-bangsa.

Perikop hari ini merupakan nubuat pembuka bagi serangkaian nubuat kabar baik tersebut. Kabar baik itu memiliki dua sisi. Sisi pertama, kabar itu mematahkan pandangan pesimis atau sinis terhadap janji Tuhan. 

Mungkin sebagian umat yang terbuang sudah menutup hati dan pikiran mereka akan janji pemulihan Tuhan, karena masa penghukuman yang begitu lama. Sebaliknya, mereka yang ambil andil dalam pembuangan umat Tuhan merasa Tuhan tak berdaya menyelamatkan umat-Nya. 

Namun pandangan manusia yang keliru itu dibantah oleh firman yang kekal, yang tidak berubah, dan yang pasti mencapai maksud penggenapannya (ayat 8). Sisi kedua, kabar baik itu harus direspons secara positif dan antusias (ayat 3-4), seantusias pembawa kabar baik itu sendiri (ayat 9-11). 

Bagaimana merespons kabar baik itu? Dengan menyiapkan hati yang lembut untuk menyambut kedatangan Tuhan dalam hidup.

Bila orang bisa merespons kabar baik dengan hati terbuka, itu merupakan anugerah dan pekerjaan Roh Kudus. Namun tugas pemberitaan kabar baik ada di bahu setiap orang yang mengaku percaya. 

Tidak ada orang yang lebih tepat untuk memberitakan kabar baik itu selain kita yang sudah mengalami pengampunan dan pemulihan-Nya lebih dahulu. Andakah orangnya?

Mazmur, Jangan batasi makna ilahi nyanyian hanya dalam ibadat.

Nyanyian gerejani (liturgi) biasanya hanya dinyanyikan dalam kegiatan beribadah saja. Tentunya ini membatasi makna ilahi yang terkandung di dalamnya. Peranan nyanyian sungguh penting dan selayaknyalah tidak dibatasi ruang lantun nyanyian tersebut. 

Mazmur ini bahkan menunjukkan bahwa kepada bangsa-bangsa dan setiap orang di antara segala suku bangsa dikabarkan tentang keselamatan yang dari Tuhan melalui nyanyian dan sorak-sorai. 

Bahkan seruan “nyanyikanlah” adalah satu bentuk perintah, sehingga perlu ditaati. Nyanyian Kristiani seumpama hembusan angin yang meniup jilatan api yang merembet luas ke mana-mana yang mengiringi kebangunan rohani di berbagai zaman dan tempat.

Berhiaskan kekudusan. Melalui puji-pujian kita diajak untuk sujud menyembah dan membawa persembahan kepada Tuhan yang agung mulia. Artinya kita datang merendahkan diri di hadapan Allah, berhiaskan kekudusan. 

Namun, mungkinkah hidup kudus pada masa kini? Memang mustahil dengan usaha sendiri, tetapi syukur kepada Allah. Kristuslah harapan kita (Ibr 13:12, yang menebus, membenarkan dan menguduskan kita (1Kor 1:30).

Doa: Ya, Tuhan Yesus jadikanlah nyanyian kami suatu berkat bagi yang belum mengenal Engkau.

Injil hari ini, Yesus mencari yang tersesat

Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 

Tuhan memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan tindakan Allah terhadap manusia, Allah tidak mau kehilangan satu orang pun terlepas dari genggaman-Nya. Untuk itulah Allah mau menderita demi keselamatan manusia. Walaupun begitu Yesus tidak memaksa orang untuk percaya kepada-Nya.

Pelampiasan dendam semakin sering mewarnai surat kabar, media, dan berita televisi. Nada ketidakpuasan, iri hati, kekecewaan, sakit hati, dan kehilangan, bagai api menyulut bensin, tak seorang pun kuasa memadamkan. Demikianlah keadaan masyarakat kita yang mudah digiring kepada dendam membara, bahkan seringkali tanpa pemahaman yang jernih akan duduk permasalahannya. Masihkah gema pengampunan terdengar di tengah dendam membara?

Kita yakin bahwa gema pengampunan masih harus terus diperdengarkan, tidak akan luntur ditelan zaman, karena misi-Nya belum tuntas. Masih banyak jiwa yang tersesat yang harus dibawa-Nya pulang. 

Perumpamaan Yesus tentang seekor domba yang hilang membuktikan bagaimana misi penyelamatan itu tidak pernah pudar, satu jiwa pun sangat berharga di mata-Nya. Ia tidak pernah meremehkan atau mendiskriminasi seorang manusia pun, karena setiap jiwa yang tersesat akan dicari, sehingga meluaplah sukacita-Nya ketika jiwa yang tersesat itu kembali pulang. 

Setiap orang yang telah ditemukan-Nya juga akan memiliki beban yang dalam melihat jiwa-jiwa yang masih tersesat. Oleh karena itu ketika kita, anak-anak Tuhan, melihat saudara kita berbuat dosa, harus mengupayakan segala cara untuk menyadarkannya dan menyerahkannya kembali kepada Tuhan. 

Bapa di surga juga akan bekerja di tengah- tengah kita yang sepakat berdoa bagi pertobatannya.

Gema pengampunan antar sesama, bukan berdasarkan kebaikan, kemurah hatian, kesabaran, dan belas kasih kita kepada orang lain, namun semata-mata karena anugerah pengampunan-Nya telah dinyatakan terlebih dahulu bagi kita. 

Sesungguhnya tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan orang lain karena kesalahannya pada kita tidak dapat dibandingkan dengan dosa kita. Jika Ia telah menganugerahkan pengampunan bagi kita, adakah kita berhak menahan pengampunan bagi orang lain yang bersalah pada kita? 

Hutang kita telah dilunaskan, masihkah kita menuntut orang yang telah memohon pelunasan hutangnya kepada kita? Adakah kita lebih besar dan lebih berkuasa dari Tuhan?

Renungkan: Masih banyak saudara kita yang membutuhkan pengampunan-Nya, masihkah anugerah pengampunan-Nya bergema dalam hidup kita melalui sikap kita mengampuni orang lain?

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami sampaikan kepada-Mu karena dengan tidak mengenal lelah Engkau senantiasa mencari kami dan memimpin kami kembali kepada Bapa surgawi. Teristimewa dalam masa Adven ini, jagalah kami agar berada di dekat-Mu dan membuat hati kami dibakar dengan hasrat akan kedatangan-Mu dalam kemuliaan pada akhir zaman. Bawalah semua umat-Mu kepada diri-Mu sehingga dengan satu suara kami akan berseru, “Datanglah, Tuhan Yesus!”. Amin.

Sumber https://carekaindo.wordpress.com/

Posting Komentar untuk "Renungan Hari Selasa 07 Desember 2021"