Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Hari Minggu 19 Juni 2022

Renungan Hari Minggu 19 Juni 2022

Renungan Hari Minggu 19 Juni 2022

Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Hal ini ditegaskan dalam Lumen Gentium artikel 11. Dikatakan sumber berarti seluruh rahmat hidup Kristiani mengalir dari sana, dikatakan puncak berarti seluruh segi hidup Kristiani mengarah ke sana.

Maka jika Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan kita, sudah layak dan pantas jika hidup kita adalah hidup yang Ekaristis. Tidak jarang, Ekaristis dihayati hanya sebagai sebuah bentuk upacara.

Karena itu, yang menjadi lebih penting adalah berkaitan dengan tata aturan upacara. Yang nampak pada akhirnya adalah hanya berkaitan dengan benar dan salah tentang tata gerak. Jika gerakan tidak kompak maka ekaristi menjadi salah, jika tidak sama persis dengan buka panduan, menjadi skandal yang besar.

Di satu sisi menjadi kebanggan bahwa orang-orang Katolik dengan ketat disiplin merayakan ekaristi persis sesuai dengan buka panduan.

Namun di sisi lain, menjadi keprihatinan karena ekaristi hanya sekedar diukur dari benar dan salah dalam tata upacara. Sementara itu, makna terdalam atau maksud rohani dari ekaristi menjadi urutan nomer sekian.

Ekaristi memang merupakan upacara, namun perlu ditambahkan, upacara rohani. Yang dimaksudkan dalam perayaan ekaristi bukanlah sekedar aku sudah benar atau belum dalam tata gerak fisik, namun jauh lebih dalam ada tentang tata gera batin.

Dalam Ekaristi kita sungguh berjumpa dengan Tuhan yang hadir nyata dalam tubuh dan darah Kristus. Hanya dalam Ekaristilah terjadi perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Tuhan.

Tubuh dan darah Tuhan itulah yang kita terima dalam Ekaristi, Tuhan berkenan hadir dalam diri kita dengan cara yang begitu sederhana mudah kita terima.

Salah satu buah dari hidup kita yang ekaristis adalah berkaitan dengan berbagi makanan dan minuman. Lima roti dan dua ikan tidak hanya disimpan sendiri, namun dikeluarkan dan pada akhirnya dibagikan.

Itulah yang menjadikan mukjizat terjadi. Jika tidak ada dimensi berbagi, mukjizat istimewa itu tidak terjadi. Hanya karena dibagikan itulah buahnya adalah makan sampai puas dan bahkan mempunyai sisa yang berlimpah.

Bagi kita, perayaan ekaristi akan selalu selesai setelah berkat penutup. Namun pada bagian terakhir selalu dikatakan ‘pergilah, kita diutus’.

Dengan demikian, setelah perayaan ekaristi, kita mempunyai tugas untuk menjadikan ekaristi itu sebagai bagian dari seluruh hidup kita.

Kita diutus untuk hadir ditengah duni dan menjadikan dunia semakin mau berbagi. Berbagi lima roti dan dua kita merupakan hal yang kecil dan sepele,

namun jika itu disertai dengan ucapan syukur dan dalam nama Tuhan, menjadikan hal yang kecil menjadi luar biasa.

Berbagi makanan dan minuman kepada orang yang ada di sekitar kita,terutama kepada mereka yang sangat membutuhkan adalah salah satu amanat dari ekaristi.

Tidak meratanya persoalan makan dan minum merupakan masalah kemiskinan yang serius. Banyak orang tidak bisa makan bukan karena kekurangan makanan, namun karena distribusi makanan yang tidak merata.

Maka dengan demikian, hal paling praktis yang bisa kita lakukan adalah memakan makanan kita dengan penuh syukur; menghabiskan makanan yang kita beli atau kita ambil ketika makan; tidak membuang-buang makanan yang sisa;

memakan apa yang kita butuhkan, bukan sekedar yang mulut kita inginkan. Selebihnya, mari kita membangun semangat untuk berbagi lima roti dan dua ikan kepada sebanyak mungkin orang.

Doa 

Allah Bapa mahapengasih dan penyayang, bagi mereka yang Kausayangi tiada yang lebih membahagiakan selain kehadiran-Mu. Putra-Mu telah menganugerahi kami tubuh dan darah-Nya sebagai tanda agung Perjanjian Baru.

Semoga peringatan mulia akan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya tetap terlukis hidup-hidup dalam angan-angan kami pada waktu kami me-ngelilingi meja altar-Mu serta ikut serta dalam perjamuan-Mu.

Demi Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Sumber https://www.renunganhariankatolik.id/

Sumber gambar google.com

Posting Komentar untuk "Renungan Hari Minggu 19 Juni 2022"