Renungan Hari Selasa 27 Desember 2022

Renungan Hari Selasa 27 Desember 2022

Renungan Hari Selasa 27 Desember 2022

Santo Yohanes, penulis Injil, memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus yang bangkit dan jaminan akan hidup kekal. Yohanes adalah murid yang dikasihi Yesus, yang mendengar dan bersaksi dengan baik tentang apa yang telah dialaninya bersama Yesus (bdk. 1Yoh 1:1).

Yohanes menegaskan bahwa tulisannya merupakan kesaksiannya atas apa yang telah didengar, dilihat, dirasakan, dan diraba selama perjalanan bersama Yesus bahkan sampai kebangkitan Yesus Kristus.

Tulisan ini ditujukkan kepada semua orang yang ingin bersekutu dalam persatuan dengan Allah Bapa dan Putra. Bagi Yohanes, apabila dia tidak menulis apa yang disaksikan sendiri, hal itu akan mengurangi sukacitannya sebagai seorang saksi Kristus. “Dan semuanya ini kami tulis kepada kamu, supaya sukacita kami akan menjadi sempurna” (Yoh.1:4)

Kisah Kelahiran Yesus Kristus sebagai Terang yang telah terbit bagi umat yang tinggal dalam kegelapan dan kekelaman, dikemas dengan refleksi yang indah dalam Injil Yohanes: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” (Yoh.1:4).

Yesus adalah terang yang akan menuntun setiap orang pada hidup yang benar. Hidup yang berbuah. Hidup yang terarah pada persekutuan dengan Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Yohanes mengantar umat beriman untuk melihat sengsara, wafat, dan kebangkitan sebagai jalan yang merintis keselamatan umat beriman. Setelah Yohanes melihat makam Yesus kosong, Dia mengerti bahwa Anak Manusia akan menderita, namun sesudah hari ketiga Dia akan bangkit dan alam maut tidak akan menguasainya lagi.

Kesaksian Yohanes, penulis Injil, menegaskan iman terhadap kebangkitan Yesus yang memberikan jaminan adanya hidup yang kekal. Yohanes mengajak kita untuk memberikan kesaksian tentang Yesus yang kita Imani, kita rasakan, dan kita alami sendiri dalam hidup setiap hari, agar iman tentang Yesus menarik semakin banyak orang yang percaya kepada-Nya.

Menurut tradisi, St. Yohanes menjadi sasaran siksaan dengan diceburkan ke dalam panci berisi minyak mendidih tetapi dia secara ajaib selamat, sedangkan para rasul lainnya menjadi martir.

Mungkin ada beberapa kebenaran dalam hal itu karena Injil yang diatributkan kepadanya mengandung kedalaman spiritual yang tidak begitu jelas dalam ketiga Injil lainnya.

Dalam seni biblika, Injil Yohanes sering digambarkan dengan burung rajawali, yang melambangkan pemahaman akan ketinggian misteri pribadi Yesus yang diuraikan dalam bab pertama Injil.

Itu memiliki kedalaman wawasan ke puncak misteri mungkin dari refleksi dan meditasi selama bertahun-tahun.

Ada sebuah cerita bahwa ketika St. Yohanes sudah tua, dia diminta untuk berkhotbah kepada sekelompok orang percaya.

Pesannya singkat namun luhur: Anak-anak terkasih, kasihilah satu sama lain. Belajarlah untuk saling mengasihi seperti Tuhan mengasihi kamu.

Itu juga merupakan tema sentral dalam Injil Yohanes, dan itu dapat ditemukan dalam perikop seperti Yohanes 3:16-17; 13:34-35; 15:17.

Ini adalah tema yang mendalam dan mengasihi satu sama lain seperti Yesus telah mengasihi kita adalah spiritualitas dan misteri yang perlu terus direfleksikan dan direnungkan di dalam hati kita.

Seperti St. Yohanes semoga Tuhan juga memperdalam dan mencerahkan kita dalam kasih-Nya kepada kita sehingga pada gilirannya kita akan saling mengasihi seperti Yesus yang telah mengasihi kita.

Doa 

Ya Allah, Engkau yang telah mengungkapkan rahasia Sabda-Mu kepada kami lewat Rasul Santo Yohanes, kami mohon semoga kami dapat mengerti dengan baik apa yang dia telah katakan kepada kami dengan mengagumkan.

Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Sumber https://www.renunganhariankatolik.web.id/

Sumber gambar google.com


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url