Renungan Katolik Harian Sabtu, 10 Januari 2026 Bacaan Injil: Yohanes 3:22–30

Renungan Katolik Harian Sabtu, 10 Januari 2026 Bacaan Injil: Yohanes 3:22–30

✨ Renungan Katolik Harian Sabtu, 10 Januari 2026 Bacaan Injil: Yohanes 3:22–30

“Ia Harus Makin Besar, Tetapi Aku Harus Makin Kecil”

Ketika Kita Tidak Lagi Menjadi Pusat

Di dunia yang mendorong kita untuk selalu terlihat, didengar, dan diakui, Injil hari ini terasa sangat berlawanan arah. Yohanes Pembaptis—seorang nabi besar, terkenal, dan diikuti banyak orang—justru mengucapkan kalimat yang sangat radikal:

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh 3:30)

Kalimat ini bukan tanda kekalahan. Bukan pula ungkapan rendah diri yang palsu. Ini adalah puncak kedewasaan iman.

Dalam renungan Katolik harian hari ini, kita diajak belajar tentang kerendahan hati sejati, tentang bagaimana hidup rohani bukan soal siapa yang paling bersinar, tetapi siapa yang paling memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja.

1. Ketika Pelayanan Menjadi Ajang Perbandingan

Injil Yohanes 3:22–30 dimulai dengan situasi yang tampaknya sepele:

Yesus dan murid-murid-Nya membaptis, dan Yohanes Pembaptis juga membaptis.

Lalu datanglah murid-murid Yohanes dengan nada cemas:

“Rabi, Dia yang bersama-sama dengan engkau di seberang sungai Yordan, yang engkau beri kesaksian, sekarang membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.”

Secara manusiawi, ini adalah momen yang rawan: murid-murid Yohanes merasa tersaingi, takut kehilangan pengaruh, takut “pelayanan mereka kalah besar”.

Bukankah ini sangat dekat dengan hidup kita?

  • Ketika usaha orang lain lebih berhasil
  • Ketika pelayanan orang lain lebih diperhatikan
  • Ketika karya kita terasa tidak lagi dihargai
  • Ketika peran kita digantikan oleh yang “lebih baru”

Di titik inilah Injil hari ini menjadi cermin batin.

2. Yohanes Pembaptis: Hati yang Tidak Melekat pada Pujian

Respons Yohanes sungguh luar biasa:

“Seorang tidak dapat mengambil sesuatu pun kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga.”

Yohanes sadar betul bahwa:

  • talenta bukan milik pribadi
  • pengaruh bukan hasil usaha semata
  • keberhasilan bukan untuk diklaim

Semua adalah anugerah.

Ia tidak cemburu.Ia tidak membela diri. Ia tidak membandingkan. Ia tahu posisinya sejak awal: bukan Mesias, hanya suara.

Inilah kebebasan rohani sejati: tidak menggantungkan nilai diri pada sorotan manusia.

3. “Sahabat Mempelai” dan Sukacita Sejati

Yohanes lalu menggunakan gambaran yang indah:

“Yang empunya mempelai perempuan adalah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu.”

Yohanes melihat dirinya sebagai sahabat mempelai, bukan pusat pesta. Tugasnya bukan merebut perhatian, melainkan menunjuk kepada yang utama.

Sukacitanya bukan karena dirinya dipuji, melainkan karena Yesus dikenal dan diterima.

Renungan iman Katolik hari ini mengajak kita bertanya:

  • Apakah aku melayani agar dilihat, atau agar Tuhan dikenal?
  • Apakah aku bersukacita ketika orang lain bertumbuh, meski aku tak lagi di depan?
  • Apakah imanku dewasa atau masih mencari validasi?

4. “Ia Harus Makin Besar”: Makna Mengecil yang Benar

Kalimat Yohanes Pembaptis sering disalahpahami. “Makin kecil” bukan berarti:

  • minder
  • menghilang
  • tidak berharga

Sebaliknya, ini berarti:

  • ego diletakkan pada tempatnya
  • Tuhan diberi ruang penuh
  • hidup diarahkan pada kehendak Allah

Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti:

  • rela tidak selalu benar
  • rela tidak selalu dipuji
  • rela tidak selalu menang
  • rela tidak selalu terlihat

Bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita percaya Tuhan bekerja lebih besar daripada ego kita.

5. Relevansi Injil bagi Generasi Digital

Di era media sosial, kita hidup dalam budaya:

  • likes
  • views
  • followers
  • engagement

Tanpa sadar, kita bisa membawa logika ini ke dalam iman dan pelayanan.

Renungan Katolik hari ini mengingatkan: Iman bukan panggung.

Pelayanan bukan perlombaan. Kekudusan bukan soal viral.

Kadang, tindakan paling kudus adalah:

  • setia dalam hal kecil
  • bekerja dalam diam
  • melayani tanpa disebut
  • mengasihi tanpa disorot

Dan di sanalah Tuhan bekerja paling dalam.

6. Ketika Tuhan Meminta Kita Mundur Selangkah

Ada fase dalam hidup di mana Tuhan:

  • meminta kita memberi ruang bagi orang lain
  • memindahkan kita dari pusat ke pinggir
  • mengubah peran kita
  • menutup satu bab untuk membuka yang lain

Ini bukan tanda kegagalan. Ini tanda kedewasaan rohani.

Seperti Yohanes Pembaptis, kita diajak belajar berkata:

“Tugasku sudah kulakukan. Sekarang, biarlah Tuhan bekerja dengan cara-Nya.”

7. Refleksi Pribadi

Luangkan waktu sejenak dan renungkan:

Di bagian hidup mana aku masih ingin “lebih besar”?

  • Apakah aku rela Tuhan lebih bersinar meski namaku memudar?
  • Apakah aku sungguh bersukacita melihat orang lain bertumbuh?
  • Apakah imanku berpusat pada Yesus atau pada diriku sendiri?

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ajarlah aku kerendahan hati sejati. Bebaskan aku dari kelekatan akan pujian dan pengakuan.

Biarlah Engkau makin besar dalam hidupku, dan aku belajar mengecil bukan karena rendah diri, tetapi karena cinta.

Amin.

Demikianlah Renungan Katolik Harian Sabtu, 10 Januari 2026 Bacaan Injil: Yohanes 3:22–30, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url